Lentera Post – PASURUAN — Universitas Surabaya (UBAYA) dan Universitas Bhayangkara Surabaya (UBHARA) kembali memperkuat sinergi dalam meningkatkan daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) logam di Desa Jogorepuh, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. Memasuki tahun kedua program pengabdian masyarakat, kedua perguruan tinggi tersebut mendorong transformasi usaha melalui inovasi alat bantu produksi, pengembangan desain komponen aksesori sepeda motor, penerapan sistem keuangan dan produksi, hingga perluasan pemasaran berbasis digital.
Program yang dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) ini merupakan kelanjutan dari pendampingan tahun pertama. Program tersebut kembali menyasar dua IKM binaan, yakni IKM Bina Logam dan IKM Dafa Motor.
Kegiatan tahun kedua masih mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Berdasarkan hasil evaluasi tahun pertama, kedua IKM telah menunjukkan perkembangan positif. Namun, tantangan peningkatan kapasitas produksi, efisiensi, inovasi produk, pengelolaan usaha, dan pemasaran masih perlu diperkuat di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Ketua Tim Pelaksana dari UBAYA, Dr. Ir. Susila Candra, IPM, mengatakan program tahun kedua dirancang lebih intensif dengan menyesuaikan kemampuan dan kebutuhan masing-masing IKM.
“Tahun pertama program pengabdian ini berhasil meletakkan fondasi. Kini, di tahun kedua, kami fokus pada peningkatan di semua lini. Kami tidak hanya mempertahankan apa yang sudah dicapai, tetapi mendorong agar setiap aspek usaha mengalami kemajuan di tengah tekanan ekonomi global yang berdampak pada situasi dalam negeri,” ujar Susila.
Dorong Efisiensi dan Kapasitas Produksi
Salah satu fokus utama pendampingan adalah peningkatan kapasitas produksi. Permintaan terhadap komponen aksesori sepeda motor masih menunjukkan peluang yang cukup besar sehingga proses produksi perlu dibuat semakin efektif dan efisien.
Pada tahun kedua, tim pengabdi mendorong penggunaan cetakan permanen untuk produk-produk yang memiliki tingkat permintaan tinggi. Inovasi tersebut diharapkan dapat mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan konsistensi hasil produk.
Pemilik IKM Bina Logam, Ali Firmansah, mengatakan perbaikan peralatan produksi membantunya menghadapi peningkatan pesanan.
“Dulu saya sering kewalahan menghadapi lonjakan pesanan. Sekarang, dengan berbagai perbaikan pada peralatan proses produksi, kapasitas produksi bisa ditingkatkan tanpa mengorbankan kualitas,” ungkap Ali.
Sementara itu, Dr. Ir. Rahman Dwi Wahyudi, IPM., anggota tim teknis sistem produksi, menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas juga dilakukan melalui perbaikan alur produksi. Dengan alur kerja yang lebih singkat dan terukur, waktu produksi dapat ditekan sehingga produktivitas meningkat.
Reverse Engineering untuk Melahirkan Produk Baru
Selain meningkatkan kapasitas, UBAYA dan UBHARA mendorong inovasi produk melalui pendekatan reverse engineering. Jika pada tahun pertama para perajin diperkenalkan pada dasar-dasar proses mempelajari dan mereplikasi produk impor, pada tahun kedua pendekatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah dan karakteristik yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
Sunardi Tjandra, M.T., anggota tim teknis desain produk, mengatakan pendekatan tersebut diarahkan agar perajin tidak sekadar meniru produk yang sudah ada.
“Tahun pertama kami mengajarkan dasar-dasar reverse engineering. Tahun kedua, kami tingkatkan dengan pendekatan yang lebih kreatif. Para perajin kami ajak untuk tidak sekadar meniru, tetapi menciptakan produk baru yang memiliki identitas dan keunggulan kompetitif,” jelas Sunardi.
Pendampingan tersebut menghasilkan sejumlah produk inovatif, tidak hanya komponen standar seperti footstep dan handle rem, tetapi juga berbagai aksesori sepeda motor dengan desain yang lebih variatif.
Pemilik IKM Dafa Motor, Saeroji, mengaku pendampingan tersebut meningkatkan kepercayaan dirinya dalam mengembangkan produk.
“Sekarang saya tidak hanya bisa membuat produk standar. Setelah belajar prinsip reverse engineering, saya bisa membuat produk yang lebih menarik dan berkualitas,” kata Saeroji.
Penguatan Sistem Keuangan dan Manajemen Produksi
Transformasi usaha juga dilakukan melalui penguatan tata kelola bisnis. Pada tahun kedua, sistem keuangan berbasis komputer dan manajemen produksi yang telah diperkenalkan pada tahun pertama mulai diimplementasikan secara lebih intensif.
Ruchan Sanusi, S.E., M.M., anggota tim dari UBHARA, mengatakan penerapan sistem tersebut diharapkan membuat pengelolaan usaha menjadi lebih tertata.
“Tahun lalu kami baru memperkenalkan sistem keuangan berbasis komputer. Tahun ini kami lanjutkan dengan implementasi yang lebih intensif,” ujarnya.
Bagi pelaku IKM, pencatatan keuangan dan produksi secara lebih sistematis memberikan kemudahan dalam memantau perkembangan usaha, termasuk omzet penjualan dan aktivitas produksi.
“Peningkatan sistem keuangan dan produksi ini membuat usaha saya semakin profesional. Saya bisa lebih mudah mengelola usaha karena semua data tercatat dengan baik,” ujar Ali Firmansyah.
Perluas Pasar melalui Pemasaran Digital
Aspek pemasaran menjadi bagian penting dalam program tahun kedua. Selama ini, sebagian pelaku IKM masih mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut dan pelanggan tetap. Karena itu, UBAYA dan UBHARA memperkenalkan strategi pemasaran digital agar produk dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Para pelaku IKM mendapatkan pelatihan dan pendampingan dalam memanfaatkan media sosial dan platform digital, seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp Business. Materi yang dikembangkan mencakup pembuatan foto produk, video proses produksi, serta deskripsi produk yang informatif.
Selain media sosial, tim juga mendorong pemanfaatan e-brosur sebagai media promosi digital yang praktis dan mudah dibagikan melalui berbagai platform.
Ruchan menilai langkah tersebut penting untuk membuka akses pasar baru.
“Potensi pasar sangat luas, baik di dalam maupun di luar Kabupaten Pasuruan. Inovasi pemasaran menjadi kunci untuk membuka peluang baru. Dengan inovasi pemasaran sederhana ini, kami ingin produk IKM logam Pasuruan tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga menembus pasar regional dan nasional,” jelasnya.
Ali dan Saeroji menyambut positif pendampingan pemasaran digital tersebut. Keduanya mengaku memperoleh wawasan baru mengenai cara mempromosikan produk secara mandiri melalui media sosial dan e-brosur.
Kolaborasi Berkelanjutan untuk Penguatan IKM
UBAYA dan UBHARA berkomitmen melanjutkan pendampingan terhadap IKM logam di Desa Jogorepuh secara berkelanjutan. Inovasi yang telah dikembangkan akan terus disempurnakan sesuai kebutuhan pelaku usaha dan perkembangan pasar.
Dr. Ir. Susila Candra, IPM., menyampaikan apresiasi kepada DPPM Kemendiktisaintek atas dukungan pendanaan yang diberikan selama dua tahun berturut-turut.
“Sinergi antara UBAYA, UBHARA, dan IKM logam Pasuruan ini merupakan bukti nyata bahwa kolaborasi yang berkelanjutan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada inovasi dan profesionalisme. Kami berharap program ini dapat menjadi model bagi pengembangan IKM di daerah-daerah lain di Indonesia. Melalui penguatan teknologi produksi, inovasi desain, tata kelola usaha, serta pemasaran digital, program kolaboratif tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing IKM logam Desa Jogorepuh sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal Pasuruan, “ pungkas Susila.
Foto Kegiatan:

Gambar 1. Foto 1: Implementasi Manajemen Keuangan dan Sistem Porduksi.

Gambar 2. Foto 2: Implementasi Manajemen Keuangan dan Sistem Porduksi

Gambar 3. Diskusi Inovasi Pemasaran dengan IKM Bina Logam dan IKM Dafa Motor

Gambar 4. Finish Produk Assesories Sepeda Motor.

Gambar 5. Varian Produk yang Telah Secara Reguler Diproduksi
Foot Step Gantungan Kunci, Corong Karburator, Ring, Foot Step

Gambar 6. Varian Produk Asesoris Sepeda Motor: Cover tutup Sensor Speed Gardan












