Santriwati perlu menggunakan Artificial Intelligence untuk belajar, berkarya, membantu masyarakat, dan menyelesaikan masalah nyata bukan hanya untuk mengerjakan tugas atau mengonsumsi konten digital.
Lentera Post – LAMPUNG, 19 Agustus 2026 — Santriwati Pesantren Diniyyah Putri Lampung didorong meningkatkan perannya dari pengguna teknologi menjadi pencipta karya dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani dalam kegiatan bertema “Menjadi Santriwati di Era AI: Cerdas Teknologi, Siap Memimpin Masa Depan”, Rabu, 19 Agustus 2026.
Apakah Santriwati Harus Menjadi Ahli AI?
Tidak semua santriwati harus menjadi programmer atau ahli Artificial Intelligence.
Namun, mereka perlu memahami bagaimana AI dapat memperkuat bidang yang dipilih.
AI dapat digunakan oleh guru, dokter, pengusaha, marketer, desainer, peneliti, akademisi, content creator, dan berbagai profesi lainnya.
Karena itu, AI bukan hanya profesi baru. AI akan menjadi lapisan kemampuan dalam banyak profesi.
Santriwati Perlu Menguasai AI Sesuai Bidangnya
Menurut Ahmad Madani, pertanyaan yang tepat bukan hanya “Apakah saya harus menjadi ahli AI?”, tetapi:
“Bagaimana AI dapat memperkuat bidang yang ingin saya tekuni?”
Seorang santriwati yang ingin menjadi pengusaha fashion muslim, misalnya, dapat menggunakan AI untuk membuat moodboard, membaca tren, mengembangkan ide konten, menyusun caption, dan menganalisis pasar.
Namun, manusia tetap menentukan nilai kesopanan, konteks sosial, budaya, kebutuhan pelanggan, dan prinsip yang akan dibawa oleh merek tersebut.
“Teknologi adalah alat. Nilai adalah sistem operasinya,” ujar Ahmad Madani.
Membantu UMKM di Sekitar Pesantren
Dalam kegiatan tersebut, Ahmad Madani mengajak santriwati membayangkan sebuah proyek sederhana.
Di sekitar pesantren terdapat UMKM yang menjual makanan, pakaian, kerajinan, produk lokal, atau jasa.
Sekelompok santriwati dapat membantu usaha tersebut dengan memanfaatkan AI untuk:
- menggali ide konten;
- menyusun kalender konten;
- mengembangkan konsep visual;
- membuat draft copy;
- dan merancang video sederhana.
Namun, mereka tidak berhenti di depan layar.
Santriwati juga perlu berbicara dengan pemilik usaha, memahami produk, mengenali pelanggan, membuat konten, membaca hasil, dan melakukan evaluasi.
Dengan cara tersebut, AI tidak hanya menjadi bahan belajar. AI berubah menjadi alat untuk menciptakan manfaat bagi masyarakat.
Bergerak dari Consumer Menjadi Creator
Generasi digital mempunyai akses terhadap teknologi yang luar biasa. Namun, banyak waktu masih digunakan untuk scrolling, watching, liking, dan commenting.
Ahmad Madani mengajak santriwati melakukan perubahan:
- Dari consumer menjadi creator.
- Dari watching menjadi learning.
- Dari scrolling menjadi solving.
Santriwati tidak cukup hanya bertanya tentang konten yang sedang viral.
Mereka perlu mulai bertanya:
“Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”
Teknologi menjadi bermakna ketika digunakan untuk membuat karya, menyebarkan ilmu, mengembangkan usaha, membantu lingkungan, dan menyelesaikan masalah nyata.
Digital Jihad sebagai Semangat Menciptakan Manfaat
Ahmad Madani menggunakan istilah Digital Jihad sebagai semangat bersungguh-sungguh menggunakan kemampuan digital untuk tujuan yang bermanfaat.
Istilah tersebut tidak digunakan dalam konteks konflik, melainkan sebagai perjuangan melawan kemalasan, ketidaktahuan, hoaks, ketergantungan terhadap teknologi, dan kebiasaan konsumtif.
Digital Jihad berarti berjuang untuk belajar, berkarya, membantu, membangun, dan menyelesaikan masalah.
Santriwati dapat menggunakan laptop untuk membantu UMKM, smartphone untuk membuat konten edukasi, serta AI untuk belajar bahasa, membuat desain, mengembangkan ide, dan meningkatkan produktivitas.
Teknologinya dapat sama.
Yang membedakan adalah tujuan penggunaannya.
Santriwati Tidak Harus Memilih Tradisional atau Modern
Menurut Ahmad Madani, pembagian antara pesantren sebagai institusi tradisional dan teknologi sebagai simbol modernitas sudah tidak relevan.
Santriwati dapat menghafal Al-Qur’an sekaligus belajar AI, mempelajari fiqih sekaligus digital marketing, serta mempelajari adab sekaligus public speaking dan entrepreneurship.
“Masa depan membutuhkan manusia yang berakar kuat, tetapi berpikiran luas,” katanya.
Dunia Menunggu Kontribusi Santriwati
Santriwati perlu mempersiapkan diri bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pencipta solusi dan pemimpin yang membawa manfaat.
Jangan takut terhadap teknologi. Pelajari dan kuasai.
Jangan hanya menyaksikan perubahan. Ikutlah membentuk perubahan.
Jangan hanya menjadi pengguna. Ciptakan sesuatu.
Jangan hanya mengejar keberhasilan pribadi. Bawa manfaat bagi orang lain.
Ilmu adalah cahaya. Teknologi adalah alat. Kepemimpinan adalah amanah.
Ahmad Madani menutup dengan ajakan:
“Jadilah santriwati yang berilmu, berkarya, dan membawa manfaat bagi sesama. Dunia menunggu kontribusimu.”
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, Guru & Narasumber Tamu SMK Pemasaran terbaik di Indonesia, dan content creator. Ia merupakan Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKS-Dikmen bidang Pemasaran Digital Nasional.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id












