UBAYA-UWKS Perkuat Desa Atsiri Jatijejer melalui Hilirisasi Jahe dan Nilam

Lentera Post – Mojokerto, Jawa Timur — Upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian masyarakat terus dilakukan di Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) tahun ke-3 pada 2026, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Surabaya (UBAYA) bersama Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melanjutkan pengembangan potensi tanaman atsiri melalui pelatihan produksi minyak atsiri berbahan baku jahe dan nilam.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan budidaya jahe dan nilam secara organik menggunakan teknik Hugelkultur. Setelah masyarakat memperoleh keterampilan dalam budidaya, program kemudian diarahkan pada tahap hilirisasi melalui pengolahan hasil panen menjadi minyak atsiri.

Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan secara langsung dengan proses produksi minyak atsiri menggunakan alat destilasi boiler skala industri berkapasitas hingga 30 kilogram bahan baku dalam satu kali proses. Pelatihan mencakup seluruh tahapan produksi, mulai dari persiapan bahan baku, pengecilan ukuran, penataan bahan tanaman di dalam tangki destilasi, pengaturan proses destilasi, pemisahan minyak atsiri, hingga penyimpanan produk.

Penggunaan alat destilasi berkapasitas lebih besar diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka peluang pengembangan usaha minyak atsiri di tingkat desa. Selain keterampilan teknis, masyarakat juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya kualitas bahan baku dan pengendalian proses untuk menghasilkan minyak atsiri dengan mutu yang baik.

Jahe dan nilam dipilih sebagai komoditas unggulan karena memiliki potensi sebagai sumber minyak atsiri dengan peluang pemanfaatan yang luas. Minyak atsiri jahe memiliki aroma khas dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai produk, antara lain pangan, farmasi, kosmetik, aromaterapi, dan produk herbal. Sementara itu, minyak atsiri nilam dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak digunakan dalam industri parfum serta kosmetik, terutama karena karakteristik aromanya dan kemampuannya sebagai bahan fiksatif.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. apt. Marisca E.G., mengatakan bahwa kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan oleh masyarakat secara mandiri.

“Tim Pengabdian kepada Masyarakat berharap keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Marisca.

Pengembangan produksi minyak atsiri menjadi bagian penting dari upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Desa Jatijejer. Dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan produk olahan dan usaha berbasis potensi lokal.

Sementara itu, Kepala Desa Jatijejer, Akhmad Mujiono, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan melalui program tersebut.

“Warga Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur mengucapkan terima kasih banyak kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas pendanaan Program PDB multitahun 2024–2026 dengan skema Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) dengan kegiatan Pengembangan Desa Atsiri,” kata Akhmad.

Program PDB multitahun 2024–2026 tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pengembangan komoditas atsiri di Desa Jatijejer, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga peluang pengembangan produk turunan. Dengan dukungan teknologi dan peningkatan kapasitas masyarakat, potensi jahe dan nilam diharapkan mampu menjadi salah satu sumber penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Foto produksi minyak atsiri jahe dan nilam

Pengujian kualitas minyak atsiri jahe dan nilam secara sederhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *