Ahmad Madani: Guru Pendamping LKS Harus Menjadi Coach, Bukan Sutradara

Pendampingan LKS Digital Marketing perlu membangun kemampuan berpikir, berkomunikasi, beradaptasi, dan mengambil keputusan. Guru sebaiknya menjadi coach yang membantu siswa menemukan solusi, bukan sutradara yang mengatur setiap kalimat dan gerakan.

Lentera Post – BANDAR LAMPUNG, 20 Agustus 2026 — Peran guru pendamping menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kompetensi peserta LKS Digital Marketing.

Hal tersebut dibahas dalam kegiatan “Digital Marketing Unlocked” yang diselenggarakan bersama MGMP Pemasaran Kota Bandar Lampung dan Yamaha di SMK Negeri 1 Bandar Lampung, Kamis, 20 Agustus 2026.

Kegiatan menghadirkan Ahmad Madani, Juri LKS Nasional bidang Pemasaran Digital, dan Witoni, S.T., M.M. dari Yamaha School Lampung.

Mengapa Siswa yang Terlihat Sempurna Saat Latihan Bisa Blank ketika Lomba?

Dalam proses pendampingan, guru sering menginginkan siswanya tampil sempurna.

Script dibuatkan.

Kalimat pembuka ditentukan.

Gesture diatur.

Jawaban keberatan disiapkan.

Penutupan diarahkan.

Selama situasinya sesuai skenario, siswa dapat terlihat sangat baik. Namun, ketika pelanggan memberikan jawaban yang tidak ada dalam script atau muncul komentar berbeda saat live, siswa dapat kehilangan arah.

Siswa Perlu Dilatih Berpikir, Bukan Hanya Menghafal

Ahmad Madani menjelaskan bahwa pendampingan yang terlalu dikendalikan dapat menghasilkan robot script.

“Guru jangan hanya memberikan jawaban. Guru perlu mengajukan pertanyaan yang membuat siswa memahami alasan di balik tindakannya,” kata Ahmad Madani.

Apabila pembukaan live siswa kurang kuat, guru tidak harus langsung memberikan kalimat pengganti.

Guru dapat bertanya:

“Kalau kamu menjadi audiens, apa alasanmu berhenti scrolling setelah mendengar opening tersebut?”

Pertanyaan tersebut mendorong siswa menilai pekerjaannya, memahami audiens, dan menemukan perbaikan secara mandiri.

Script Berjalan Baik sampai Pelanggan Keluar dari Skenario

Seorang siswa dapat menghafalkan jawaban ketika pelanggan mengatakan harga produk terlalu mahal.

Namun, pelanggan nyata tidak selalu menggunakan kalimat yang sama.

Ada pelanggan yang membandingkan kompetitor, meragukan kualitas, mempertanyakan cicilan, atau mengungkapkan keberatan secara tidak langsung.

Jika siswa hanya menghafal satu script, ia akan kebingungan.

Karena itu, Ahmad Madani memperkenalkan lima langkah handling objection:

Listen → Clarify → Empathize → Answer → Confirm

Siswa mendengarkan sampai selesai, mengklarifikasi masalah sebenarnya, menunjukkan empati, memberikan jawaban yang relevan, lalu memastikan kekhawatiran pelanggan telah terjawab.

Dengan kerangka tersebut, siswa tidak hanya menghafalkan kalimat. Mereka belajar menggunakan struktur berpikir untuk menyelesaikan masalah.

Gunakan KEEP, IMPROVE, TRY

Dalam mengevaluasi latihan, guru dapat menggunakan framework:

KEEP → IMPROVE → TRY

KEEP

Menentukan hal yang sudah baik dan harus dipertahankan, seperti suara jelas, kontak mata, gestur natural, atau product knowledge.

IMPROVE

Mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki secara spesifik.

Bukan hanya mengatakan “kurang bagus”, tetapi menjelaskan bahwa siswa masih terlalu banyak menyebut fitur dan belum menghubungkannya dengan manfaat pelanggan.

TRY

Menentukan hal baru yang perlu dicoba pada latihan berikutnya, seperti menggunakan pembukaan berbentuk pertanyaan atau melakukan simulasi keberatan tanpa membaca script.

Framework ini membuat feedback lebih konkret, terarah, dan mudah ditindaklanjuti.

Latih Siswa dalam Kondisi Tidak Ideal

Kompetisi dan dunia industri tidak selalu berjalan dalam kondisi sempurna.

Internet dapat bermasalah.

Brief bisa berubah.

Produk dapat diganti.

Waktu persiapan berkurang.

Pelanggan dapat memberikan respons yang tidak terduga.

Karena itu, siswa perlu sesekali dilatih dalam kondisi yang tidak ideal, seperti:

  • melakukan live tanpa tripod;
  • menghadapi waktu persiapan pendek;
  • menerima komentar pelanggan yang sulit;
  • menjelaskan produk tanpa catatan;
  • menghadapi perubahan produk;
  • atau melakukan simulasi gangguan koneksi.

Tujuannya bukan mempersulit siswa, tetapi membangun adaptabilitas dan ketenangan saat menghadapi ketidakpastian.

AI sebagai Sparring Partner

AI juga dapat digunakan sebagai partner latihan.

Siswa dapat meminta AI berperan sebagai pelanggan yang sensitif terhadap harga, membandingkan kompetitor, atau sulit mengambil keputusan.

Setelah simulasi, AI dapat memberikan feedback awal. Guru kemudian membantu siswa membangun pertimbangan dan penilaian yang lebih matang.

“AI memberikan variasi latihan. Guru membangun judgement,” ujar Ahmad Madani.

Guru Pendamping adalah Arsitek Kompetensi

Guru pendamping bukan hanya orang yang memastikan siswa memahami kisi-kisi.

Guru merupakan arsitek kompetensi yang membangun kemampuan siswa untuk berpikir, berkomunikasi, menerima kritik, menggunakan teknologi, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.

Apabila tujuan pendampingan hanya medali, guru mungkin tergoda menyempurnakan seluruh script dan menghindarkan siswa dari kesalahan.

Namun, apabila tujuannya kesiapan industri, siswa perlu diberi ruang untuk mencoba, gagal, menerima feedback, dan memperbaiki.

“Kompetisi dapat selesai dalam satu hari. Namun, cara berpikir dan kompetensi yang dibangun selama pendampingan dapat digunakan sepanjang karier,” kata Ahmad Madani.

Tentang Ahmad Madani

Ahmad Madani merupakan praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKS-Dikmen bidang Pemasaran Digital tingkat nasional.

Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *