Riset pasar membantu murid memahami kebutuhan pelanggan sebelum membuat produk, menentukan harga, atau menghabiskan modal. Langkah awal membangun bisnis bukan bertanya “Mau jualan apa?”, tetapi “Masalah apa yang ingin diselesaikan?”
Lentera Post – JAKARTA, 24 Agustus 2026 SMK Negeri 46 Jakarta menyelenggarakan Workshop dan Lokakarya Riset Pasar dalam Pengembangan Kewirausahaan Murid SMK, Senin, 24 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani untuk membantu murid memahami proses membangun ide bisnis berdasarkan masalah, data, dan kebutuhan pelanggan.
Mengapa Produk yang Bagus Bisa Gagal di Pasar?
Banyak calon entrepreneur memulai bisnis dengan menentukan produk, membuat logo, merancang kemasan, dan mempersiapkan media sosial.
Namun, setelah produk diluncurkan, pembeli tidak datang.
Menurut Ahmad Madani, masalahnya tidak selalu terletak pada kualitas produk atau promosi. Produk tersebut mungkin dibuat berdasarkan keinginan pembuatnya, bukan kebutuhan pelanggan.
“Produk yang bagus menurut kita belum tentu bernilai bagi pelanggan. Pasar tidak hanya bertanya apakah produknya bagus, tetapi apakah produk tersebut relevan dengan kebutuhan mereka,” ujar Ahmad Madani.
Bisnis Perlu Dimulai dari Masalah Pelanggan
Riset pasar membantu murid memahami siapa calon pelanggan, masalah yang dialami, kemampuan membeli, kebiasaan, alternatif yang digunakan, dan solusi yang belum tersedia.
Pertanyaan riset juga harus menggali perilaku nyata, bukan hanya pendapat.
Daripada bertanya, “Apakah kamu suka camilan pedas?”, murid dapat bertanya, “Berapa kali kamu membeli camilan pedas dalam satu minggu terakhir?”
Jawaban mengenai perilaku memberikan informasi yang lebih kuat dibandingkan pujian atau pendapat.
Kopi Gen-Z yang Sepi Pembeli
Dalam lokakarya, Ahmad Madani memberikan ilustrasi bisnis Kopi Gen-Z yang dibangun tiga murid.
Nama, logo, kemasan, dan konten Instagram telah disiapkan. Produk dijual seharga Rp15.000 dan dianggap cocok untuk teman-teman sekolah.
Namun, penjualannya sepi.
Setelah dilakukan riset, ditemukan bahwa mayoritas target pasar hanya mempunyai anggaran sekitar Rp10.000, tidak semuanya menyukai kopi, dan waktu istirahat terlalu singkat untuk proses penyajian.
Masalahnya bukan logo atau algoritma Instagram.
Mereka membuat solusi sebelum memahami masalah.
Murid Harus Mampu Memahami Kebutuhan Masyarakat
Kepala SMK Negeri 46 Jakarta, Osda Ida Perida Manurung, menyampaikan bahwa pendidikan kewirausahaan perlu membentuk murid yang peka terhadap masalah dan kebutuhan lingkungan.
“Kami ingin murid tidak hanya kreatif membuat produk, tetapi juga mampu memahami siapa yang membutuhkan produk tersebut dan manfaat apa yang dapat diberikan. Proses riset membantu mereka lebih kritis, terukur, dan bertanggung jawab ketika mengembangkan usaha,” kata Osda Ida Perida Manurung.
Pujian Bukan Validasi Pasar
Pernyataan seperti “produknya bagus”, “idenya menarik”, atau “saya suka” belum menjadi bukti bahwa pasar benar-benar membutuhkan produk tersebut.
Validasi menjadi lebih kuat ketika calon pelanggan melakukan tindakan nyata, seperti:
- memberikan nomor kontak;
- mendaftar dalam daftar tunggu;
- melakukan pre-order;
- membayar uang muka;
- membeli;
- atau merekomendasikan produk.
“Bisnis tidak dibangun dari pujian. Bisnis dibangun dari masalah nyata, pelanggan nyata, solusi nyata, dan transaksi nyata,” jelas Ahmad Madani.
Kolaborasi Membawa Pengalaman Industri ke Kelas
Wakil Kepala SMK Negeri 46 Jakarta Bidang Kerja Sama, Sugiyono, menilai keterlibatan praktisi membantu murid memperoleh perspektif yang lebih dekat dengan kondisi bisnis sebenarnya.
“Melalui kolaborasi ini, murid belajar bahwa keputusan bisnis perlu didasarkan pada data dan kebutuhan pelanggan. Kami berharap mereka tidak hanya mempunyai ide, tetapi juga mampu menguji dan mempertanggungjawabkan ide tersebut,” ujar Sugiyono.
Jatuh Cintalah pada Masalah, Bukan Produk
Produk pertama murid mungkin belum berhasil. Namun, proses riset, pengujian, dan perbaikan dapat membentuk pola pikir kewirausahaan yang lebih berharga.
Masalah → Riset → Insight → Solusi → Uji → Belajar → Perbaiki
“Jangan jatuh cinta pada produk. Jatuh cintalah pada masalah yang ingin diselesaikan. Jika solusi tidak sesuai, kita harus berani mengubahnya,” kata Ahmad Madani.
Kegiatan ini diharapkan membantu murid berkembang dari pembuat produk menjadi problem solver yang mampu menciptakan solusi berdasarkan kebutuhan nyata.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, Guru & Narasumber Tamu SMK Pemasaran terbaik di Indonesia, serta Juri LKSN Digital Marketing 2026.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.












