Lentera Post – Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) sedang mengkaji rencana penghentian jaringan 2G di Indonesia. ATSI menilai langkah ini bisa mempercepat transformasi digital nasional.
Ketua ATSI Marwan O. Baasir menjelaskan hal itu saat wawancara di Bandung pada Minggu. Ia menyebut ATSI dan pemerintah baru membahas rencana ini di tahap awal. Menurutnya, jika ekosistem digital ingin bergerak lebih cepat, semua pihak perlu mulai bersiap. Persiapan itu mencakup waktu pelaksanaan dan bentuk insentif.
Alasan Penghentian Jaringan 2G
Tujuan rencana ini adalah membebaskan spektrum frekuensi pada pita 900 MHz. Operator selama ini memakai pita tersebut untuk layanan 2G. Setelah pita itu bebas, operator bisa mengalihkan frekuensinya ke teknologi yang lebih sesuai dengan kebutuhan digital saat ini, seperti 4G dan 5G.
Jumlah Pengguna Jaringan 2G di Indonesia
ATSI memperkirakan pengguna 2G masih berkisar 8 sampai 10 persen dari seluruh pengguna layanan seluler di Indonesia. Marwan merujuk pada data registrasi kartu SIM berbasis biometrik sejak awal 2026 hingga Agustus 2026. Data tersebut sudah mencapai 297 juta. Dari jumlah itu, ia memperkirakan sekitar 29 juta pengguna masih mengandalkan jaringan 2G.
Sebagian besar dari mereka masih memakai jaringan ini untuk telepon dan pesan singkat. Karena itu, ATSI menilai rencana penghentian perlu persiapan matang supaya akses komunikasi masyarakat tetap lancar.
Tantangan Penghentian Jaringan 2G di Indonesia Timur
Kondisi geografis Indonesia ikut memengaruhi kajian ini. Marwan menyebut Indonesia Timur sebagai wilayah yang menantang karena banyak warga masih memakai ponsel fitur atau feature phone. Sebagai bahan pembanding, ATSI juga memantau kebijakan penghentian 2G di sejumlah negara lain. Mereka menjadikannya acuan dalam kajian.
Harapan ATSI soal Regulasi dan Insentif
Marwan berharap pemerintah hadir lewat regulasi dan insentif jika keputusan penghentian jaringan 2G benar-benar keluar. Salah satu contohnya, pemerintah bisa mengatur peredaran perangkat yang hanya mendukung 2G setelah kebijakan diumumkan.
Di sisi lain, ia berharap ponsel 4G LTE dan 5G semakin mudah ditemukan dengan harga terjangkau. Dengan begitu, masyarakat bisa beralih ke teknologi baru tanpa terbebani biaya yang terlalu tinggi.












