Lentera Post – Bandung, 3 Oktober 2026 — Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya diwujudkan melalui pengetahuan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan dan tindakan nyata. Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan IN-SAINTEK UNPAR 2026: AMBU RESIK, yang mengajak masyarakat untuk belajar dan bergerak bersama menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Mengusung semangat “Aksi Masyarakat Bersama untuk Rumah, Ekologi, Siaga, Inklusif, dan Kebencanaan”, kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ir. H. Djuanda. Kegiatan menghadirkan rangkaian aktivitas edukatif dan praktik langsung, mulai dari edukasi gaya hidup berkelanjutan, pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, hingga pembagian take-home kit bagi peserta.
Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah Eco Living yang disampaikan oleh P. Basuki. Materi mengajak peserta memahami persoalan lingkungan kekinian dengan melihat lingkungan sebagai suatu kesatuan yang utuh. Permasalahan lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan hubungan antarmakhluk hidup dan keseimbangan ekosistem.
Peserta diperkenalkan pada peranan berbagai makhluk hidup dalam keberlangsungan kehidupan serta konsep bahwa kehidupan berlangsung sebagai sebuah siklus. Dalam konteks tersebut, keberadaan mikroorganisme juga menjadi bagian penting karena berperan dalam rantai makanan dan proses penguraian di lingkungan.
“Pemahaman mengenai lingkungan menjadi dasar sebelum masyarakat diajak melakukan tindakan konkret. Ketika kita memahami bahwa semua bagian dalam ekosistem saling terhubung, kita akan melihat pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan membuang sampah, tetapi bagian dari menjaga keberlangsungan kehidupan,” demikian inti pembelajaran dalam sesi Eco Living.
Setelah mendapatkan pemahaman mengenai keterhubungan dalam ekosistem, peserta kemudian mengikuti sesi Pemilahan Sampah yang disampaikan oleh Hendro Prasetya Wibowo, S.T., M.Sc., Founder Healthy Harvest Indonesia, bersama tim. Materi memperkenalkan tiga kelompok sampah, yaitu sampah busuk (organik), sampah rongsok (anorganik), dan sampah residu.
Pembelajaran tidak berhenti pada penjelasan konsep. Peserta diajak melakukan praktik pemilahan sampah secara interaktif sehingga dapat mengenali jenis sampah dan menentukan penanganan yang tepat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pengolahan sampah organik sebagai upaya memperkenalkan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Kegiatan AMBU RESIK melibatkan masyarakat dari berbagai wilayah. Peserta berasal dari Paroki Lembang sebanyak 2 orang, RW 1 Kelurahan Hegarmanah 15 orang, RW 2 Kelurahan Hegarmanah 15 orang, Desa Pagerwangi 9 orang, Desa Ciburial 55 orang, Kelurahan Hegarmanah 25 orang, Kelurahan Ciumbuleuit 25 orang, serta Desa Mandalamekar 23 orang. Secara keseluruhan, tercatat 169 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
Keberagaman asal peserta menunjukkan bahwa isu lingkungan merupakan persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat. Melalui kegiatan berbasis edukasi dan praktik, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai lingkungan, tetapi juga didorong untuk menerapkan kebiasaan pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan pembagian take-home kit yang diharapkan dapat mendukung peserta untuk melanjutkan praktik ramah lingkungan setelah kegiatan berakhir. Dengan demikian, AMBU RESIK tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi diharapkan menjadi pemantik perubahan perilaku yang dapat diterapkan di lingkungan rumah dan komunitas masing-masing.
Melalui IN-SAINTEK UNPAR 2026: AMBU RESIK, Universitas Katolik Parahyangan bersama masyarakat berupaya membangun kesadaran bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Memahami keterhubungan ekosistem, memilah sampah, mengolah sampah organik, dan membangun kebiasaan hidup berkelanjutan menjadi bagian dari langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat.












