SMK Ketintang Surabaya Bekali Siswa Hadapi Pemasaran Era AI melalui “Dari Posting ke Closing”

Lentera Post – SURABAYA — Perkembangan artificial intelligence tidak hanya mengubah cara perusahaan menciptakan konten, tetapi juga cara konsumen mencari informasi, membandingkan produk, membangun kepercayaan hingga akhirnya mengambil keputusan pembelian. Perubahan tersebut menjadi salah satu tema utama dalam Sharing Session bertajuk “Dari Posting ke Closing: Jadi Marketer Cerdas di Era AI” yang digelar di Aula SMK Ketintang Surabaya, Rabu, 7 Oktober 2026.

Kegiatan menghadirkan Ahmad Madani, praktisi pemasaran dan vokasi sekaligus praktisi AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO). Di hadapan siswa SMK Ketintang Surabaya, Madani mengajak peserta melihat bahwa kompetensi pemasaran saat ini tidak lagi cukup jika hanya berhenti pada kemampuan membuat postingan di media sosial.

Menurut Madani, industri membutuhkan calon marketer yang mampu memahami konsumen, membaca customer journey, membuat konten yang relevan, memanfaatkan data, menggunakan AI secara tepat, serta memahami bagaimana sebuah brand dapat ditemukan dan dipercaya di tengah perubahan perilaku pencarian informasi.

“Dulu orang banyak mencari informasi dengan mengetik kata kunci di mesin pencari. Sekarang konsumen mulai bertanya langsung kepada AI. Mereka bisa bertanya produk apa yang cocok, sekolah mana yang direkomendasikan, tempat wisata mana yang menarik, sampai brand apa yang layak dipilih. Karena itu, dunia pemasaran harus mulai memahami bukan hanya SEO, tetapi juga AI Visibility dan GEO,” jelas Madani.

Ia menjelaskan bahwa GEO secara sederhana dapat dipahami sebagai upaya membangun informasi dan otoritas digital agar sebuah individu, brand, produk maupun institusi memiliki peluang lebih besar untuk dipahami, dirujuk, dan direkomendasikan dalam ekosistem pencarian berbasis AI.

Madani selama ini aktif membawa topik AI Visibility-GEO melalui berbagai kegiatan edukasi, sharing session, pelatihan, artikel, serta materi publik. Menurutnya, isu tersebut tidak seharusnya hanya dibicarakan di ruang korporasi atau seminar teknologi, tetapi juga perlu diperkenalkan sejak pendidikan vokasi.

Kepala SMK Ketintang Surabaya, Agung Nugroho, S.E., M.M., menilai perkembangan industri harus terus diikuti oleh pendidikan vokasi. Menurutnya, pembelajaran di SMK perlu membantu siswa memahami kompetensi yang benar-benar digunakan dalam dunia kerja.

“Perubahan teknologi bergerak sangat cepat. Sekolah harus membuka ruang agar siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga memperoleh gambaran bagaimana industri bekerja saat ini. Kami ingin anak-anak memahami bahwa teknologi, termasuk AI, harus menjadi alat untuk meningkatkan kompetensi mereka,” ujar Agung.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Ketintang Surabaya, Heffriza Ahmad, M.Pd., menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan teknologi dan karakter.

“Anak-anak kita harus berani memanfaatkan teknologi, tetapi tetap memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi, tanggung jawab, dan etika. AI seharusnya tidak membuat mereka berhenti berpikir, justru harus membantu mereka menghasilkan pekerjaan yang lebih baik,” katanya.

Kepala Program Bisnis Digital SMK Ketintang Surabaya, Ifani Wahyu R., S.Pd., mengatakan perubahan dunia pemasaran menjadi tantangan sekaligus peluang bagi siswa Bisnis Digital.

“Kompetensi pemasaran sekarang semakin luas. Siswa tidak cukup hanya belajar membuat konten atau mengelola media sosial. Mereka juga perlu memahami konsumen, data, penjualan, marketplace, artificial intelligence, sampai perkembangan bagaimana sebuah brand ditemukan di ruang digital,” jelas Ifani.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami satu pesan utama: AI bukan pengganti marketer, tetapi alat yang dapat meningkatkan kemampuan seorang marketer jika digunakan dengan cara yang tepat.

Madani menegaskan bahwa masa depan pemasaran tetap membutuhkan kemampuan manusia dalam membaca konteks, membangun kepercayaan, menciptakan kreativitas, berkomunikasi, dan memahami kebutuhan konsumen.

“AI bisa membantu membuat seratus ide. Tetapi manusialah yang menentukan ide mana yang relevan, etis, dan benar-benar dibutuhkan konsumen. Dari sinilah anak-anak SMK harus mulai menaikkan levelnya: jangan cuma bisa posting, tetapi belajar berpikir sampai menghasilkan closing,” pungkas Madani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *