Lentera Post – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong petani ikan untuk menggunakan teknologi bioflok dalam budidaya. Teknologi ini membantu petani meningkatkan hasil panen secara mandiri dan menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan sistem bioflok, petani memelihara mikroorganisme yang mengubah limbah organik menjadi pakan alami. Petani mengurangi penggunaan pakan buatan dan menghemat air karena mereka tidak perlu mengganti air secara rutin. Sistem ini juga mempercepat pertumbuhan ikan dan menekan biaya produksi.
Petani di Klaten, Temanggung, Cilacap, dan Banyumas sudah mulai menerapkan bioflok setelah mengikuti pelatihan dari KKP. Mereka melaporkan peningkatan hasil panen hingga empat kali lipat. Di beberapa desa, petani mampu meningkatkan produktivitas hingga 50% dan meningkatkan pendapatan dalam waktu tiga bulan setelah panen.
Petani juga memanfaatkan bioflok di lahan sempit, seperti pekarangan rumah. Mereka mengoptimalkan penggunaan air dan memproduksi ikan dengan kualitas daging yang lebih baik. Rasio konversi pakan (FCR) dalam sistem bioflok hanya sekitar 1,03, jauh lebih efisien dibanding metode konvensional yang mencapai 1,5.
Melalui inovasi ini, petani ikan di berbagai daerah mengembangkan usaha budidaya secara lebih hemat, sehat, dan ramah lingkungan. Mereka mengurangi ketergantungan pada sumber daya besar dan meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan sistem budidaya yang lebih berkelanjutan.












