Lentera Post – Ketergantungan petani terhadap pestisida kimia masih menjadi persoalan serius dalam sektor pertanian. Penggunaan bahan kimia secara berlebihan memang dinilai praktis untuk mengendalikan hama, namun di sisi lain berdampak pada meningkatnya biaya produksi, risiko kesehatan bagi petani, serta kerusakan lingkungan pertanian. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan keberlanjutan sistem pertanian di tingkat desa.
Di banyak wilayah pertanian, termasuk kawasan pedesaan dengan potensi alam yang melimpah, limbah organik dari sisa tanaman dan aktivitas rumah tangga masih belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah tersebut sering kali dianggap tidak bernilai dan berakhir sebagai sampah, padahal di dalamnya terkandung potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian.
Melalui kegiatan pengabdian masyrakat, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berupaya menawarkan solusi alternatif dengan memperkenalkan pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku pestisida alami. Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa pengendalian hama tidak harus selalu bergantung pada produk kimia pabrikan, melainkan dapat memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar lingkungan petani. Pestisida organik berbahan nabati seperti daun pepaya, daun sirsak, bawang putih, serai, jahe, kunyit, dan lengkuas diolah melalui proses sederhana sehingga mudah diterapkan oleh masyarakat.

Sosialisasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada cara pembuatan dan penggunaan pestisida organik, tetapi juga pada peningkatan kesadaran petani mengenai dampak penggunaan pestisida kimia secara berlebihan. Petani diajak untuk melihat kembali sumber daya lokal di sekitar mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar pelengkap. Pendekatan partisipatif ini penting agar inovasi yang diperkenalkan tidak terasa asing dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Secara nyata, kegiatan ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang petani terhadap limbah organik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. Petani mulai memahami bahwa bahan-bahan di sekitar mereka dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih aman dan ekonomis. Perubahan cara berpikir ini menjadi hasil penting dari kegiatan sosialisasi, karena menjadi langkah awal menuju kemandirian petani dalam mengelola lahan pertanian mereka.
Selain berdampak pada peningkatan pengetahuan, pemanfaatan pestisida organik juga membuka peluang pengurangan biaya produksi pertanian. Dengan bahan yang mudah diperoleh dan proses pembuatan yang sederhana, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada produk pestisida dari luar. Di sisi lain, penggunaan bahan alami membantu menjaga kesuburan tanah dan mengurangi risiko pencemaran lingkungan.

Ke depan, diharapkan pendekatan ini tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat dengan dukungan berbagai pihak. Dengan pendampingan yang konsisten, pemanfaatan pestisida organik berpotensi menjadi bagian dari praktik pertanian sehari-hari. Sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pendamping pertanian menjadi kunci agar inovasi sederhana ini dapat memberikan dampak jangka panjang.
Pada akhirnya, pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku pestisida alami bukan hanya solusi teknis untuk mengendalikan hama, tetapi juga bagian dari upaya membangun pertanian yang lebih mandiri, sehat, dan berkelanjutan. Ketika petani mampu mengelola sumber daya lokal secara optimal, ketahanan pertanian desa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bahan kimia, melainkan tumbuh dari kesadaran dan kearifan lokal.
Nama Penulis:
Salsabila Anindya
Risky Lutfy Fauzi
Dekka Andika Darace
Farrel Pramuditya Nugroho
Elfalina Magymai
Dosen Pembimbing:
Novi Andari, S.S., M.Pd












