26 Ruang Kelas Darurat Dibangun di Sumbar, Siswa Kini Kembali Nyaman Belajar

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan 26 Ruang Kelas Darurat (RKD) sebagai langkah cepat memulihkan layanan pendidikan di Sumatra Barat. (Foto: Dok Kemendikdasmen)

LenteraPost – Suara lagu Rukun Sama Teman yang dinyanyikan murid menyambut kedatangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di SD Negeri 5 Batang Anai, Sumatra Barat (Sumbar).

Di sekolah yang sempat terdampak banjir besar akhir 2025 itu, pemerintah meresmikan 26 Ruang Kelas Darurat (RKD) sebagai langkah cepat memulihkan layanan pendidikan.

Pembangunan RKD ini menjadi respons konkret pemerintah dalam memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung meski di tengah keterbatasan pascabencana. Dengan total anggaran Rp1,3 miliar, fasilitas tersebut kini memungkinkan siswa kembali belajar di ruang yang lebih layak dan aman.  “RKD ini memang bersifat sementara, tetapi menjadi solusi cepat agar anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman sambil menunggu pembangunan sekolah permanen,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Minggu (19/4/2026).

Tak hanya membangun ruang kelas darurat, pemerintah juga mempercepat revitalisasi satuan pendidikan di Sumatra Barat. Pada 2026, sebanyak 322 sekolah ditargetkan direhabilitasi melalui kombinasi skema swakelola dan kolaborasi dengan TNI Angkatan Darat.

Rinciannya meliputi 84 PAUD, 169 SD, 35 SMP, 26 SMA, 4 SMK, dan 4 SLB. Hingga saat ini, progres pembangunan tahap awal telah mencapai 70 persen dengan nilai anggaran Rp167,53 miliar.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan pemulihan pendidikan berjalan cepat, terukur, dan berkelanjutan setelah bencana.  “Revitalisasi ini penting agar seluruh proses pembelajaran di Sumatra Barat kembali berjalan optimal,” kata Abdul Mu’ti.

Keberhasilan pembangunan RKD tidak lepas dari sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pendidikan, masyarakat, serta mitra strategis lainnya. Kolaborasi ini dinilai menjadi faktor utama dalam mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak.

Di SDN 5 Batang Anai sendiri, lima RKD berhasil dibangun hanya dalam waktu 10 hari. Fasilitas tersebut kini dilengkapi sarana belajar seperti meja, kursi, papan tulis, hingga perangkat pembelajaran digital seperti Interactive Flat Panel untuk mendukung kegiatan akademik.

Kembalinya proses belajar di ruang kelas membawa semangat baru bagi para siswa. Mutia, siswi kelas VI, mengaku senang bisa kembali belajar dengan fasilitas yang lebih layak setelah sebelumnya harus belajar di tenda darurat. “Sekarang kami bisa belajar dengan meja, kursi, dan ruang yang beratap. Kami senang sekali,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Fahira Romadona Putri, siswa kelas V, yang mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap sekolahnya. “Sekarang sekolah kami sudah bagus lagi dan bisa belajar di kelas,” ucapnya.

Kepala SDN 5 Batang Anai, Gusniarti, menyebut kehadiran RKD menjadi titik balik pemulihan pendidikan di sekolahnya, yang sebelumnya terdampak parah akibat banjir. “RKD ini membuat murid kembali belajar di ruang kelas. Semoga layanan pendidikan kami segera pulih sepenuhnya,” katanya.

Pembangunan 26 RKD di Sumatra Barat—terdiri dari 21 unit di Kabupaten Agam dan 5 unit di Kabupaten Padang Pariaman—menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan pendidikan di tengah situasi darurat.

Lebih dari sekadar fasilitas sementara, RKD menjadi simbol bahwa pendidikan harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun, sekaligus memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam proses belajar.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *