Sekolah Air Hujan Banyu Bening Kembangkan Teknologi Pengolahan Air Minum

Seorang anak meminum air di Depo Komunitas dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Foto: Bismo Agung/InfoPublik-IGID)
Seorang anak meminum air di Depo Komunitas dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (Foto: Bismo Agung/InfoPublik-IGID)

Lentera Post – Komunitas dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengembangkan teknologi elektrolisis untuk mengolah air hujan menjadi air layak minum.

Pendiri Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih atau Bu Ning (58), mengatakan air hujan yang ditampung terlebih dahulu melalui beberapa tahap filtrasi sebelum diproses menggunakan teknologi elektrolisis. “Dalam proses elektrolisis ini, molekul air dipecah menjadi dua jenis air, yaitu air basa dan air asam,” ujar Bu Ning saat ditemui di Komunitas Banyu Bening, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, air basa merupakan air bermuatan hidrogen yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Air tersebut dikenal memiliki sifat antioksidan karena klaster molekulnya lebih kecil sehingga lebih mudah diserap tubuh. “Air basa membantu membersihkan sel, membawa nutrisi ke jaringan tubuh, dan menjaga kelembaban sel,” jelasnya.

Sementara itu, air asam atau air bermuatan oksigen dimanfaatkan sebagai antiseptik alami. “Biasanya digunakan untuk merawat luka, berkumur saat sakit gigi atau sariawan,” katanya.

Adapun, Bu Ning menegaskan konsumsi air asam harus dibatasi karena bersifat oksidan. “Kalau diminum hanya untuk kondisi tertentu dan maksimal 100 mililiter per hari,” imbuhnya.

Air hujan yang digunakan ditampung menggunakan toren dan melalui tiga tahap penyaringan untuk memastikan kebersihannya. “Filter pertama menyaring kotoran dan hewan kecil, filter kedua memisahkan air hujan awal, dan filter ketiga dilakukan sebelum masuk tandon,” jelas Bu Ning.

Selain digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, air hasil elektrolisis juga dimanfaatkan masyarakat untuk membantu pemulihan kesehatan. Namun, Banyu Bening menegaskan tidak pernah mengklaim diri sebagai layanan medis. Komunitas terbuka 24 jam menyediakan air layak minum dan bersih untuk kebutuhan warga sehari-hari secara gratis.

Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin (60), menceritakan sejumlah pengalaman warga yang datang karena berbagai persoalan kesehatan. “Ada pasangan yang sebelas tahun belum punya anak. Setelah rutin mengonsumsi air hujan olahan ini, beberapa tahun kemudian akhirnya mereka memiliki anak,” ujarnya.

Menurut Kamaludin, banyak warga datang dengan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari pemulihan pascasakit hingga gangguan tertentu. Namun, ia menegaskan bahwa komunitas hanya membantu mendampingi pola hidup sehat melalui pemanfaatan air hujan dan edukasi lingkungan.

Fajar (40), warga Sleman, mengaku rajin meminum air jenis basa dari Banyu Bening saat mengidap batu ginjal selama beberapa bulan. Penyakitnya tersebut sudah tidak terasa lagi. “Saya sekarang mengisi ulang dua galon (ukuran 15 liter per galon) untuk kebutuhan 2-3 minggu. Air ini untuk menyembuhkan infeksi saluran kemih saya,” kata Fajar kepada InfoPublik.

Dari berbagai pengalaman itu, Sri Wahyuningsih berharap masyarakat semakin memahami bahwa air hujan dapat menjadi solusi ketahanan air sekaligus mengurangi eksploitasi air tanah. Penampungan air hujan ini merupakan “lumbung” ketika warga kesulitan air dan di masa kemarau. “Harapannya masyarakat kembali memahami bahwa air hujan itu baik dan bisa dimanfaatkan dengan aman melalui teknologi sederhana,” tuturnya.

Berangkat dari gerakan keluarga dan latar belakang sebagai pedagang pasar tradisional, Bu Ning bersama sejumlah rekannya mendirikan Komunitas Banyu Bening pada 2012. Komunitas itu kemudian berkembang menjadi ruang edukasi dan gerakan sosial tentang konservasi air hujan.

Pada 9 September 2019, Sekolah Air Hujan Banyu Bening resmi diresmikan sebagai tempat edukasi nonformal bagi masyarakat yang ingin belajar pengelolaan air hujan dan mitigasi bencana hidrometeorologi. “Kami memakai istilah sekolah supaya orang penasaran dan tertarik datang belajar,” ujarnya dengan semangat.

Tak hanya mengajarkan teknik pemanfaatan air hujan, Sekolah Air Hujan juga membangun pendidikan karakter melalui Sanggar Banyu Bening untuk anak-anak. Di tempat itu, anak-anak dikenalkan kembali pada budaya Jawa, tradisi sungkem, unggah-ungguh, hingga kebiasaan ramah lingkungan seperti membawa tumbler dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *