LenteraPost, Pasca bencana, keselamatan jiwa dan pertolongan bagi korban merupakan hal pertama dan utama. Korban bencana alam rentan mengalami penurunan kesehatan mental serta berisiko mengalami trauma psikologis. Situasi serupa juga dialami manusia dalam krisis kemanusiaan akibat konflik dan kekerasan, ketika keselamatan fisik dan rasa aman berada dalam ancaman serius. Dalam perspektif psikologi humanistik, manusia dipahami sebagai individu yang memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar dapat bertumbuh secara optimal. Abraham Maslow mengurutkan kebutuhan manusia ke dalam lima tingkatan, yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang dan rasa memiliki, kebutuhan akan penghargaan, serta kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman merupakan fondasi awal yang menentukan stabilitas psikologis individu.
Ketika kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut runtuh—baik akibat bencana alam maupun konflik kemanusiaan—manusia berada pada kondisi psikologis yang sangat rentan. Dalam konteks korban bencana alam, kebutuhan homeostasis menjadi sangat menonjol dan harus segera dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup akses terhadap dapur umum, tempat penampungan atau perlindungan yang layak, informasi yang jelas, rasa aman dari kemungkinan bencana susulan, empati serta kepedulian sosial, dan keterhubungan dengan anggota keluarga yang masih ada. Hal yang sama juga dialami oleh masyarakat sipil dalam wilayah konflik, ketika ruang hidup, keamanan, dan keterhubungan sosial mereka terputus secara drastis.
Di sisi lain, Maslow menekankan bahwa kebutuhan akan rasa aman merupakan fondasi psikologis penting setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan ini secara berkelanjutan dapat memunculkan kecemasan kronis, rasa tidak berdaya, alienasi sosial, hingga gangguan kesehatan mental yang lebih serius. Dengan demikian, pendekatan humanistik menempatkan rasa aman bukan sekadar sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai kebutuhan psikologis yang menentukan kualitas kemanusiaan seseorang.
Proses relasi antara manusia dan alam merupakan tindakan aktif yang melibatkan pengendalian dan pengolahan unsur-unsur lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, relasi ini tidak selalu berjalan seimbang. Aktivitas manufaktur, teknologi, produksi, dan eksploitasi sumber daya alam sering kali mengubah lingkungan secara drastis. Aktivitas politik, produksi, dan eksploitasi alam memiliki tujuan tertentu, namun dampaknya tidak selalu berdampak positif bagi manusia lainnya. Ketika relasi manusia–lingkungan atau manusia–manusia didominasi oleh kepentingan tertentu, kelompok rentan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak, baik dalam bentuk bencana ekologis maupun krisis kemanusiaan.
Dalam konteks ini, teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow memiliki keterbatasan dalam membaca dimensi politik, sosial, dan budaya secara menyeluruh. Perilaku manusia tidak dapat digeneralisasi hanya sebagai respons atas kebutuhan primer atau tindakan individual semata. Intervensi eksternal perlu dipahami sebagai bagian dari aspek makro yang bersifat dinamis dan berkelanjutan. Bencana alam dan konflik kemanusiaan menunjukkan bahwa runtuhnya kebutuhan dasar seringkali berkaitan dengan struktur sosial, kebijakan, dan relasi kekuasaan. Oleh karena itu, meskipun kebutuhan merupakan sesuatu yang fundamental, kondisi lingkungan tidak pernah bekerja dengan satu teori tunggal.
Psikologi sebagai disiplin ilmu hadir untuk memahami dan merespons gangguan mental manusia, terutama pada korban bencana dan krisis kemanusiaan, melalui pendekatan konseling. Konseling traumatik merupakan proses membantu individu memberi makna atas pengalaman traumatis nya, baik pada korban bencana alam maupun konflik. Dampak psikologis dapat dipahami melalui faktor pra-krisis, saat krisis, dan pasca-krisis. Dalam implementasinya, konseling traumatik dilakukan secara bertahap melalui tahap awal, pertengahan, dan akhir, dengan tujuan memulihkan rasa aman, kebermaknaan, dan martabat manusia.
Sebagai disiplin ilmu, psikologi memiliki batasan dalam menjelaskan kompleksitas penderitaan manusia secara utuh. Di satu sisi, psikologi mampu memahami kondisi mental individu, namun di sisi lain, pemulihan kesehatan mental memerlukan kerja lintas disiplin dan dukungan struktural. Pendekatan humanistik mengingatkan bahwa di balik angka korban, bencana, dan konflik, terdapat manusia yang berjuang mempertahankan makna hidupnya.












