Serahkan Penghargaan kepada Tim Kyai Lodra, Gubernur Khofifah Tegaskan Komitmen Lestarikan Reog Ponorogo di Jawa Timur

Lentera Post – SURABAYA, 27 JUNI 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi kepada Tim Kesenian Reog Kyai Lodra yang berhasil meraih Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI sekaligus membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia. Apresiasi tersebut diberikan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, minggu lalu.

Dalam kesempatan ini, Gubernur Khofifah juga menyerahkan penghargaan kepada 77 tim.Kyai Lodra yang telah berhasil menjadi juara umum festival Reog Ponorogo. Mereka mendapatkan apresiasi berupa piagam penghargaan dan uang apresiasi masing-masing sebesar Rp1 juta. Sementara itu, Tim Kesenian Kyai Lodra menerima piagam penghargaan serta uang pembinaan sebesar Rp40 juta atas prestasi yang diraih.

Gubernur Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan Tim Kyai Lodra bukan hanya menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Ponorogo, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Jawa Timur. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional mampu terus berkembang, beradaptasi, dan tampil unggul di tengah dinamika zaman.

“Keberhasilan tim kesenian Kyai Lodra menjadi bukti nyata kesenian tradisi Jawa Timur tetap memiliki daya tarik, relevansi dan kualitas terbaiknya di tengah dinamika zaman. Tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus bertransformasi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi ruhnya,” ujarnya.

Khofifah menambahkan, Reog Ponorogo bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan identitas budaya Jawa Timur yang sarat akan nilai keberanian, ketangguhan, gotong royong, kreativitas, serta penghormatan terhadap warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya pelestarian Reog harus terus diperkuat melalui berbagai upaya pembinaan, regenerasi, dan pemberian ruang kreativitas bagi para seniman, khususnya generasi muda, agar kesenian tradisional tetap hidup dan dicintai lintas generasi.

Di tengah arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, Khofifah menilai budaya tradisional justru memiliki peran strategis sebagai penanda jati diri bangsa sekaligus sumber pembentukan karakter masyarakat.

“Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui upaya menjaga warisan yang telah ada. Kita juga harus membuka ruang yang luas bagi kreativitas, inovasi, dan regenerasi agar budaya tetap relevan, dicintai, dan mampu menjawab tantangan zaman,” tegasnya.

Lebih lanjut, Khofifah mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat ekosistem kebudayaan melalui kolaborasi antara pemerintah, seniman, akademisi, komunitas budaya, hingga masyarakat. Menurutnya, budaya bukan hanya aset warisan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak pembangunan daerah, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat ekosistem kebudayaan, memperluas ruang-ruang kreativitas bagi generasi muda serta menjadikan budaya sebagai kekuatan karakter sekaligus kekuatan pembangunan daerah,” ajaknya.

Khofifah pun berharap prestasi yang diraih Tim Kyai Lodra menjadi motivasi bagi seluruh pelaku seni budaya di Jawa Timur untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi yang

“Mari kita jaga, lestarikan, dan wariskan semangat Reog kepada generasi penerus. Karena di dalamnya tersimpan jati diri, karakter, serta kebanggaan Jawa Timur yang akan terus menguatkan Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kesenian Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Gubernur Khofifah dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, yang selama ini memberikan pembinaan, arahan, serta fasilitasi kepada para pelaku seni.

Ia menjelaskan, selain meraih gelar Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI, Tim Kyai Lodra juga berhasil memborong sejumlah penghargaan bergengsi, yakni Penyaji Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Penata Tari Terbaik.

“Alhamdulillah kami berhasil meraih juara umum sekaligus memperoleh penghargaan penyaji terbaik, penata musik terbaik, penata tari terbaik. Prestasi ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tim peserta dan juga pastinya dukungan dari berbagai pihak,” ungkapnya.

Joko berharap Reog Ponorogo terus berkembang sebagai ruang pengabdian para seniman, budayawan, akademisi, dan generasi muda dalam menjaga, mengembangkan, serta memajukan seni budaya Indonesia sebagai warisan yang bernilai luhur dan mendunia.

“Secara khusus para generasi muda dalam mengemban tugas pelestarian pengembangan dan kemajuan seni budaya di Jawa Timur,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *