Lentera Post – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Masnun Tahir, menegaskan pentingnya penguatan literasi digital dan etika bermedia bagi generasi muda dalam Forum Sahabat Tunas bertema “Cerdas, Sehat, dan Terlindungi” yang digelar di Pondok Pesantren Qomarul Huda, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (5/5/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Dirjen Komunikasi Publik dan Media (KPM) Komdigi Fifi Aleyda Yahya, serta sejumlah narasumber dan kreator konten seperti Syakir Daulay, Akademisi, Whinda Yustisia, dan Founder Kommunites sehatiet Orgerivas Dongeng rounesis, Danang Sriwijayanto.
Dalam sambutannya, Masnun Tahir menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda di era digital, terutama dalam menyaring informasi yang beredar luas di media sosial. “Pilihan kita hari ini adalah menghidupkan atau dihidupkan oleh teknologi. Karena itu, anak-anak harus cerdas dalam menggunakan media digital, tetapi tetap berpegang pada etika dan aturan,” ujarnya.
Ia menekankan prinsip “saring sebelum sharing” sebagai fondasi utama dalam bermedia sosial. Menurutnya, tanpa proses verifikasi dan penyaringan, informasi yang disebarkan berpotensi menimbulkan dampak negatif, baik secara sosial maupun hukum.
Lebih lanjut, Masnun mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus tetap seimbang dengan pendidikan dan perkembangan karakter anak. Ia mengimbau agar pelajar tidak kehilangan jati diri akibat penggunaan gadget yang berlebihan. “Jangan sampai anak-anak lebih dominan memegang gadget daripada belajar. Pendidikan tetap menjadi investasi utama masa depan,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan moral dan spiritual. Menurutnya, teknologi tidak bertentangan dengan nilai agama, selama digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.
Dalam konteks kebijakan, Masnun Tahir juga mendukung upaya pemerintah dalam menghadirkan regulasi sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak negatif teknologi, khususnya bagi anak dan remaja. Ia menilai regulasi tersebut penting sebagai pedoman dalam berinteraksi di ruang digital. “Regulasi ini bukan muncul tiba-tiba, tetapi melalui kajian akademik dan kebijakan publik. Ini menjadi panduan agar generasi muda tetap terlindungi dalam ekosistem digital,” jelasnya.
Forum Sahabat Tunas menjadi ruang edukasi sekaligus konsolidasi bagi pelajar, pendidik, dan pemangku kepentingan dalam memperkuat literasi digital, kesehatan mental, serta perlindungan anak di era transformasi digital.
Kegiatan ini juga mempertegas sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas dalam menciptakan generasi muda yang adaptif terhadap teknologi, namun tetap berkarakter, beretika, dan berdaya saing.












