BSSN Dorong Masyarakat Perkuat Keamanan Digital di Tengah Ancaman Siber

Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Berty B.W. Sumakud menjelaskan keamanan siber merupakan upaya adaptif untuk melindungi seluruh lapisan ruang digital, termasuk aset informasi, dari ancaman teknis maupun sosial. (Foto: Putri/InfoPublik)

LenteraPost – Penguatan keamanan digital menjadi bagian penting dalam konsep pertahanan semesta di era modern, seiring meningkatnya ancaman siber yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyerang ruang sosial dan informasi publik.

Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Berty B.W. Sumakud menjelaskan keamanan siber merupakan upaya adaptif untuk melindungi seluruh lapisan ruang digital, termasuk aset informasi, dari ancaman teknis maupun sosial.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Gaskeun Camp: Kolab Jadi Jawara dengan tema: “#GaskeunJagaInfo: Kolaborasi Ala Muda, Bela Negara Ala Bandung” yang digelar di Kota Bandung pada Kamis (23/4/2026).  “Ancaman siber tidak hanya berupa serangan teknologi seperti peretasan, malware, atau kebocoran data, tetapi juga manipulasi informasi yang memengaruhi opini publik,” kata Berty.

Menurutnya, disinformasi, misinformasi, hingga manipulasi informasi asing (Foreign Information Manipulation and Interference/FIMI) dapat menjadi “senjata” dalam konflik modern karena mampu merusak kepercayaan publik, memecah belah masyarakat, hingga mengganggu stabilitas nasional .

Berty menyoroti bahwa lanskap informasi saat ini telah berubah drastis akibat perkembangan platform digital dan kecerdasan buatan, sehingga informasi dapat menyebar lebih cepat daripada fakta.  “Karena itu, masyarakat dituntut untuk lebih kritis dan proaktif dalam menjaga keamanan ruang digital, termasuk dengan melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya serta berkontribusi sebagai produsen konten positif,” kata Berty.

Sebelumnya, Direktur Informasi Publik Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo menegaskan pertahanan negara kini tidak lagi terbatas pada aspek militer seperti TNI atau BSSN. Namun ujung tombak sebenarnya adalah para mahasiswa, konten kreator, dan pegiat komunitas.

Ia menambahkan, ancaman terhadap bangsa saat ini tidak selalu berbentuk fisik, melainkan juga melalui manipulasi informasi yang dapat memecah belah persatuan.

Ancaman itu tidak selalu datang dalam bentuk bom atau peluru, tetapi bisa berupa tautan, meme, atau komentar yang dirancang untuk memecah belah kita. Dalam konteks tersebut, Nursodik mengingatkan bahwa aktivitas digital masyarakat memiliki peran strategis dalam bela negara.  “Ingat, jempol kalian adalah senjata, dan unggahan kalian adalah benteng terakhir bangsa di era digital,” kata Nursodik.

Kegiatan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem keamanan siber nasional, termasuk peran aktif generasi muda sebagai agen literasi digital. Pemerintah berharap tercipta ruang digital yang sehat, aman, dan mampu memperkuat persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi global.

Gaskeun Camp: Kolab Jadi Jawara menghadirkan narasumber dari Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Brigjen TNI Berty B.W. Sumakud, S.H., M.H., Perwakilan Pandawara Group Mochamad Agung Permana, dan Founder Festival Pelajar Unggulan, influencer pemberdayaan anak muda.

Mahasiswa yang hadir dalam kegiatan ini Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Padjadjaran (Unpad), Univ. Islam Bandung (Unisba), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), UIN Sunan Gunung Jati, Universitas Komputer Indonesia (Unikom).

Sumber 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *