Dosen Farmasi Universitas Noor Huda Mustofa dan UPN Veteran Jawa Timur Latih Kelompok Wanita Tani Olah Biofarmaka Jadi Diversifikasi Produk Bernilai

Lentera Post – BANGKALAN, 23 Oktober 2026 – Dosen Farmasi Universitas Noor Huda Mustofa berkolaborasi dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur menggelar pelatihan diversifikasi produk biofarmaka bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sanggra Agung, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Kegiatan ini merupakan implementasi Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Tahun Anggaran 2026 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Pelatihan bertujuan untuk menguatkan peran petani perempuan dan masyarakat lokal untuk meningkatkan level keberdayaannya melalui produk herbal dan kesehatan tradisional.

Dalam pelaksanaan program Kosabangsa ini, tim dosen menggandeng Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangkalan sebagai mitra pemerintah, serta MPSTore sebagai mitra industri di bidang digital marketing dan e-commerce. Kerjasama ini semakin menguatkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemanusiaan. Bahwa hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Sains dan teknologi harus ditularkan kepada masyarakat dan dikolaborasikan bersama multidisiplin ilmuwan serta pemerintah dan industri sehingga menciptakan dampak sebesar mungkin bagi Bangkalan dan Indonesia” ungkap Devi Anggraini Putri, M.Si selaku ketua tim pelaksana dalam program Kosabangsa saat memberikan penguatan kepada para wanita tani.

In frame: Devi saat memberikan pelatihan dan penguatan kepada kelompok wanita tani (KWT) Desa Sanggra Agung

Perempuan yang kerap disapa Devi juga berpesan kepada kelompok tani bahwa dampak bukan hanya apa yang dihasilkan selama program, tetapi apa yang tetap bertahan meskipun program telah selesai. Sehingga untuk memperkuat kolaborasi ini, tim dosen Universitas Noor Huda Mustofa bersama UPN Veteran Jawa Timur menggagas “Sanggradaya” sebagai wadah inkubator di Desa Sanggra Agung Socah Bangkalan. Harapannya, melalui Sanggradaya (Instagram: @sanggradaya.id), Desa Sanggra Agung mampu menjadi Sentra Bisnis Biofarmaka Lokal yang berkelanjutan. Sentra ini menjadi langkah awal yang baik sebagai penguatan ekonomi hijau masyarakat lokal melalui peningkatan kapasitas dan diversitas produk biofarmaka. Nama Sanggradaya sendiri sarat makna: “Sanggra” diambil dari nama Desa Sanggra Agung, sedangkan “Daya” diartikan sebagai masyarakat desa yang berdaya dan berbudaya.

Mengemas bahan baku menjadi diversitas produk biofarmaka

Materi dimulai dari pengenalan potensi biofarmaka seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur sebagai rimpang yang paling diminati beserta senyawa aktif dan rasa khasnya. Peserta kemudian mempelajari standarisasi biofarmaka yang dimulai dari pencucian, pengeringan, perajangan, sortasi, dan penyimpan karena mutu biofarmaka berawal dari bahan baku yang bersih, seragam, dan kering.

Dalam sesi demo, Devi bersama tim dosen lainnya: Rizka Efi Mawli, M.Si., dan Rulisiana Widodo, M.Tr.Kom memperkenalkan produk diversitas biofarmaka mulai dari sediaan cair atau minuman, serbuk instan, tisane, herbal latte, hingga kue kering herbal. Peserta dilatih memperhatikan karakteristik tiap sediaan dan titik kritis tiap produk, misalnya mengemas minuman saat hangat dan menyimpannya dingin, serta mengaduk serbuk terus-menerus hingga berbutir kering dan tidak lengket. Serta turut melakukan uji organoleptik sederhana pada setiap sediaan.

In frame: Devi dan tim dosen lainnya saat demo diversifikasi produk biofarmaka kepada peserta pelatihan

In frame: Peserta pelatihan memperhatikan karakteristik sediaan dan melakukan uji organoleptik sederhana.

Selain teknik produksi, pelatihan membekali peserta dengan cek mutu sederhana pada setiap batch, kelengkapan label sesuai ketentuan pangan olahan, serta jalur perizinan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Aspek bisnis turut dibahas. Peserta berlatih menghitung harga pokok penjualan (HPP) per kemasan, menambahkan margin, lalu membandingkannya dengan harga pasar.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk dapat mendukung dan meningkatkan nilai jual hasil pertanian masyarakat Bangkalan,” kata Samhori, Ketua Kelompok Tani Sumur Agung.

Langkah Lanjutan

Usai pelatihan, peserta diarahkan untuk melakukan uji coba di dapur kelompok, memilih satu produk unggulan, mengurus SPP-IRT melalui Dinas Kesehatan setempat, lalu menjual secara terbatas sambil mengumpulkan masukan sebelum kapasitas produksi diperbesar.

Selain pelatihan, tim dosen Universitas Noor Huda Mustofa dan UPN Veteran Jawa Timur juga sedang mengembangkan teknologi Hybrid Solar House Dryer di Desa Sanggra Agung, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Teknologi ini merupakan pengering rempah dengan pemanas hybrid yang dilengkapi Internet of Things (IoT). Teknologi ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi petani rempah untuk menghasilkan produk biofarmaka yang terstandar dan berkelanjutan.

Kegiatan ini sejalan dengan visi Sanggradaya untuk menghadirkan produk biofarmaka terbaik Indonesia melalui peningkatan kapasitas dan diversitas produk, serta penerapan agroforestri alami yang berkelanjutan. Semangatnya: “From local to Global, Sanggradaya is a biopharmaceutical business centre to empower local farmers.”

In frame: Foto bersama tim dosen Universitas Noor Huda Mustofa dan UPN Veteran Jawa Timur bersama kelompok tani desa Sanggra Agung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *