Gubernur Khofifah Dampingi Menag Buka PPSN VI, Ajak Santri Pramuka Jadi Pagar Betis Jaga Keutuhan NKRI dan Masifkan Gerakan Tanam Pohon untuk Lestarikan Lingkungan

Lentera Post – MALANG, 2 OKTOBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar membuka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo, Kabupaten Malang, Kamis (1/10) malam.

Di PPSN yang diikuti kontingen dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, Gubernur Khofifah mengajak santri pramuka menjadi bagian dari kekuatan bangsa dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Santri pramuka harus menjadi pagar betis untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Khofifah menjelaskan, menjadi pagar betis berarti mengambil peran bersama dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Peran tersebut penting karena santri pramuka memiliki bekal pendidikan keagamaan sekaligus nilai-nilai kepramukaan yang menanamkan persaudaraan, gotong royong, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

“Santri pramuka harus menjadi bagian yang ikut menjaga persatuan dan memperkuat persaudaraan. Jangan sampai perbedaan membuat kita terpecah belah,” katanya.

Semangat persaudaraan, kata Khofifah, penting bagi Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan keyakinan. Perbedaan harus menjadi kekuatan yang mempererat kehidupan berbangsa.

“Di sini kita dipertemukan dalam persaudaraan. Berbeda daerah, berbeda budaya, tetapi kita semua adalah satu bangsa, satu Indonesia,” tambahnya.

Ia kemudian mengajak para peserta melihat kembali sejarah Majapahit sebagai bagian dari perjalanan Nusantara dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.

“Ini adalah Bumi Majapahit. Majapahit ini sangat kuat dalam artian harmoni di antara intern dan antarumat beragama dibangun luar biasa,” tegasnya.

“Karena kalau kita mengenal kalimat Bhinneka Tunggal Ika, maka itu terlahir pada era Majapahit dan itu pusatnya ada di Mojokerto, dan inisiatornya dari Singosari Malang,” lanjutnya.

Khofifah mengatakan semangat Bhinneka Tunggal Ika perlu terus dirawat dalam kehidupan berbangsa. Keberagaman membutuhkan nilai bersama yang menjadi landasan agar persatuan tetap terjaga.

“Kita tidak cukup hanya menyampaikan Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika harus diikat dengan Pancasila,” tegasnya.

Khofifah juga mengingatkan bahwa pembukaan PPSN VI bertepatan dengan 1 Oktober yang diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Momentum tersebut diharapkan semakin menguatkan komitmen santri pramuka dalam menjaga persatuan dan NKRI.

“PPSN ini kita buka bertepatan dengan 1 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila. Ini mudah-mudahan menjadi penguat bahwa santri pramuka akan menjadi pagar betis untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Selain soal kebangsaan, Khofifah meminta para peserta tidak membatasi cita-cita. Santri memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi ulama, intelektual, profesional, pengusaha, maupun berkarier di bidang pertahanan dan keamanan.

“Insya Allah semua santri yang hadir malam ini akan jadi ulama-ulama yang mendunia, jadi pebisnis-pebisnis yang luar biasa, dan insya Allah jadi intelektual yang juga bisa memberikan dedikasi terbaik untuk masyarakat, bangsa dan negara,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengajak peserta PPSN VI membangun kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, kepedulian tersebut sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, ia mendorong agar kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui gerakan nyata bersama para peserta PPSN VI. Salah satunya melalui penanaman pohon dengan jumlah yang disesuaikan dengan jumlah peserta.

“Kalau pesertanya 7.000, insya Allah saya menyiapkan 7.000 pohon. Kalau pesertanya 10.000, kita siapkan 10.000 pohon,” ujarnya.

Menurut Khofifah, gerakan menanam pohon tersebut dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi para santri pramuka sekaligus kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Lingkungan kita wujudkan dengan banyak menanam. Insya Allah akan menjadi bagian dari sedekah oksigen,” katanya.

Mengakhiri sambutannya, ia berharap PPSN VI menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan membangun kebersamaan dengan sesama santri pramuka dari berbagai daerah.

“Manfaatkan waktu dengan baik, apalagi di Bumi Majapahit Jawa Timur. Insya Allah manfaat dan efeknya akan luar biasa. Selamat berkemah, mudah-mudahan akan menjadi bagian dari peneguh Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengatakan PPSN VI Tahun 2026 menjadi momentum untuk membentuk santri yang tidak hanya tangguh dan terampil, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang kuat.

“Banyak keterampilan yang dipelajari di Pramuka. Kader Pramuka itu harus berakhlakul karimah, itulah karakter Pramuka, itulah karakter santri. Kalau ikut kepramukaan, santri pasti jadi pembaharu,” kata Nasaruddin.

Menurutnya, nilai-nilai kepramukaan juga sejalan dengan keteladanan Rasulullah SAW, termasuk kedisiplinan, menjaga kesehatan, dan semangat berolahraga.

Sebagai informasi, PPSN VI Tahun 2026 diikuti 4.500 santri, terdiri atas 3.000 santri dari Jawa Timur dan 1.500 santri dari 33 provinsi lainnya.

Pembukaan PPSN VI ditandai dengan peluncuran Saka Amal Bakti oleh Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar. Rangkaian seremoni dilanjutkan dengan penyiraman tunas kelapa menggunakan kendi oleh Menteri Agama, didampingi Gubernur Khofifah, Sekjen Kemenag Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., Dirjen Kemenag Basnang Said dan Waka Kwarnas Asrorun Niam Sholeh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *