Lentera Post – Bantul – Berawal dari keberanian mencoba, tiga siswa MA Nurul Ulum Bantul akhirnya membawa pulang prestasi membanggakan dari ajang Lomba Essay Nasional #12 Tingkat SMA Tahun 2026 yang digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Mereka adalah Anggita Wulandari, Naala Aufal Mahya, dan Rumaysha Arroshidah. Ketiganya tergabung dalam satu tim yang berhasil menjadi satu-satunya finalis dari Madrasah Aliyah di Provinsi DIY. Tidak berhenti sampai di sana, karya mereka juga mendapat penghargaan Best Paper.
Bagi ketiganya, pencapaian ini terasa istimewa. Sebab, awalnya mereka hanya ingin mencoba mengukur kemampuan dan mencari pengalaman baru melalui sebuah kompetisi essay. Dari situlah proses panjang dimulai.
Mereka berdiskusi, mencari ide, menyusun tulisan, saling memberi masukan, kemudian kembali merevisi ketika menemukan bagian yang masih kurang. Tidak selalu mudah, tetapi proses tersebut justru membuat mereka semakin kompak.
“Awalnya kami cuma ingin mencoba. Ketika tahu lolos menjadi finalis, kami sudah senang sekali. Tidak menyangka akhirnya bisa mendapatkan Best Paper juga. Rasanya campur aduk, senang, bangga, sekaligus lega karena semua proses yang kami jalani terbayar,” kata Anggita Wulandari.
Bagi Anggita, Naala, dan Rumaysha, pengalaman mengikuti lomba ini bukan hanya soal mendapatkan penghargaan. Mereka belajar bahwa sebuah tulisan tidak lahir dalam sekali jadi. Ada proses bertukar pikiran, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan belajar memahami sudut pandang satu sama lain.
Mereka juga mengaku dukungan dari guru dan madrasah membuat mereka semakin berani. Kesempatan untuk mencoba kompetisi menjadi ruang bagi mereka untuk menemukan kemampuan yang sebelumnya mungkin belum mereka sadari.
Kepala MA Nurul Ulum Bantul, Muhammad Ali Hanafi, S.Pd.I., Gr., menyambut prestasi tersebut dengan rasa syukur dan bangga. Menurutnya, keberhasilan ketiga siswa ini menjadi bukti bahwa siswa madrasah memiliki kemampuan dan gagasan yang layak diperhitungkan di tingkat nasional.
“Yang membanggakan bukan hanya karena mereka mendapatkan Best Paper. Mereka berani mencoba, berani membawa nama madrasah, dan mampu menjadi satu-satunya finalis Madrasah Aliyah dari DIY. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi mereka,” ujar Muhammad Ali Hanafi.
Ia berharap prestasi tersebut bisa menular kepada siswa lainnya. Bukan dalam arti harus selalu menjadi juara, tetapi berani mengambil kesempatan, mencoba sesuatu yang baru, dan tidak takut menunjukkan kemampuan.
Bagi Anggita, Naala, dan Rumaysha, perjalanan ini mungkin dimulai dari sebuah keputusan sederhana: mencoba. Namun dari keberanian kecil itu, mereka akhirnya sampai ke panggung nasional dan membawa pulang penghargaan Best Paper.
Sebuah cerita sederhana tentang tiga siswa madrasah yang membuktikan bahwa ketika diberi kesempatan untuk mencoba, sebuah ide bisa tumbuh menjadi prestasi.












