Lentera Post – Memperingati Hari Santri 2026, Ahmad Madani menekankan pentingnya perlindungan anak, penguatan literasi digital, dan pengembangan kompetensi santri tanpa meninggalkan adab.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 diharapkan menjadi momentum bagi lembaga pendidikan pesantren untuk memperkuat kualitas pengasuhan, lingkungan pendidikan yang aman, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Ahmad Madani, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor 2001 sekaligus praktisi pemasaran dan pendidikan vokasi, menilai bahwa pesantren memiliki peluang besar untuk menyiapkan generasi muda yang tidak hanya kuat dalam nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Menurut Madani, pembahasan mengenai masa depan pesantren perlu semakin memperhatikan pengalaman pendidikan yang dirasakan langsung oleh para santri. Hal tersebut mencakup kualitas pembelajaran, pembentukan karakter, perlindungan anak, hingga kesempatan mengembangkan kreativitas dan keterampilan.
Sebagai orang tua yang juga mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada pesantren, Madani memandang lingkungan yang aman dan penuh keteladanan sebagai salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan berasrama.
“Kedisiplinan merupakan bagian penting dari pendidikan pesantren. Namun, disiplin tidak boleh menjadi pembenaran bagi kekerasan. Pesantren harus mampu membangun karakter yang kuat sekaligus menjaga martabat dan keselamatan setiap santri,” ungkapnya.
Selain perlindungan anak, Madani menyoroti pentingnya membangun ekosistem pesantren yang ramah digital. Menurutnya, konsep tersebut tidak berarti memberikan kebebasan tanpa batas dalam penggunaan perangkat teknologi, melainkan mengajarkan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Madani yang aktif memberikan edukasi AI, pemasaran digital, serta personal branding kepada pelajar dan santri menilai bahwa kecakapan digital akan menjadi semakin penting dalam berbagai profesi. Karena itu, pesantren perlu mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mempertemukan kecakapan teknologi dengan nilai-nilai kepesantrenan.
“Santri perlu memahami AI karena teknologi ini akan memengaruhi banyak bidang kehidupan. Namun, kemampuan menggunakan teknologi tidak boleh membuat seseorang kehilangan adab, integritas, dan kebiasaan berpikir kritis,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi seharusnya memperluas kesempatan berkarya bagi santri, bukan menggantikan proses belajar yang membentuk kemandirian. AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung kreativitas, pembelajaran bahasa, kewirausahaan, dan pengembangan keterampilan, selama penggunaannya tetap disertai bimbingan yang tepat.
Madani juga berharap pengembangan pesantren ramah anak dan ramah digital tidak menjadi slogan semata. Menurutnya, keberhasilan kedua pendekatan tersebut memerlukan komitmen pengasuh, peningkatan kompetensi pendidik, keterlibatan orang tua, serta evaluasi berkelanjutan terhadap praktik pendidikan.
“Hari Santri seharusnya tidak hanya mengajak kita mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak yang sedang belajar di pesantren hari ini mendapatkan pendidikan terbaik untuk menghadapi masa depannya,” tutup Madani.












