Lentera Post – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN mendorong peningkatan partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB) sebagai bagian dari upaya mewujudkan pembagian peran yang lebih setara dalam perencanaan keluarga.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga), Wihaji mengatakan, keterlibatan pria dalam program KB masih jauh lebih rendah dibandingkan perempuan. Saat ini, peserta KB pria tercatat baru 3,6 persen, sedangkan 96,4 persen lainnya merupakan perempuan.
Menurut Wihaji, kondisi tersebut menunjukkan perlunya ruang yang lebih besar bagi pria untuk terlibat dalam pengaturan dan perencanaan keluarga. Tanggung jawab tersebut, kata dia, semestinya tidak dibebankan kepada perempuan semata karena keputusan mengenai keluarga merupakan proses yang dilakukan bersama.
“Jangan sampai perempuan selalu menjadi objek utama untuk mengatur, padahal prosesnya dilakukan bersama. Bebannya tidak boleh hanya ditanggung oleh perempuan, di sinilah negara dan pemerintah hadir memberikan ruang keadilan bagi pria,” ujar Wihaji, dalam Webinar Nasional terkait KB Pria dalam rangka Hari Kontrasepsi Dunia 2026, di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Wihaji menjelaskan, pemaknaan terhadap program KB terus berkembang seiring perubahan zaman. Jika pada era 1970-an hingga 2000-an KB lebih banyak dipahami dalam konteks pengaturan kelahiran, saat ini pendekatannya semakin berkaitan dengan perencanaan keluarga secara menyeluruh.
Menurut dia, KB bukan semata-mata untuk membatasi jumlah anak, melainkan menjadi bagian dari hak keluarga untuk mengendalikan dan mengatur perencanaan keluarga. “Bukan membatasi, tapi mengendalikan dan mengatur. Memastikan supaya generasi ke depan betul-betul terencana,” katanya.
Perencanaan tersebut, lanjut Wihaji, berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga dan anak. Aspek yang perlu diperhatikan meliputi kesehatan reproduksi, kesehatan mental, kesehatan ekonomi, serta kecukupan gizi dan pengasuhan anak.
Dengan perencanaan keluarga yang baik, keluarga diharapkan dapat menyesuaikan kemampuan ekonomi dengan kebutuhan anggota keluarga, menjaga kesehatan reproduksi, serta memastikan anak memperoleh gizi dan pengasuhan yang memadai.
“Yang lebih penting adalah memastikan bahwa dengan cara ini maka generasi penerus Indonesia ke depan lebih baik karena mendapatkan asupan gizi, lebih baik karena mendapatkan pengasuhan yang baik,” ujar Wihaji.
Dalam konteks peningkatan partisipasi pria, Wihaji menilai masyarakat perlu mendapatkan informasi yang memadai mengenai berbagai pilihan kontrasepsi pria. Salah satunya adalah vasektomi. Edukasi menurutnya menjadi bagian penting karena masih terdapat kekhawatiran di kalangan pria mengenai keamanan kontrasepsi, risiko, serta kemungkinan pengaruhnya terhadap fungsi seksual.
Penjelasan mengenai hal tersebut, lanjut dia, perlu diberikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan disampaikan langsung oleh tenaga medis maupun praktisi yang memiliki pengalaman di lapangan. “Untuk meyakinkan KB pria itu butuh argumentasi yang pas, suasana yang pas, dan memang sekali dua kali belum cukup,” ujarnya.
Wihaji juga mengatakan pernah melihat secara langsung prosedur vasektomi. Berdasarkan pengamatannya, prosedur tersebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar lima menit, dan ia menekankan pentingnya penjelasan medis mengenai tingkat keamanan, risiko, dan kemungkinan kegagalan kontrasepsi pria.
Lanjut dia, dengan informasi yang jelas, masyarakat diharapkan dapat memahami pilihan kontrasepsi secara lebih utuh. “Ini pilihan. Negara memberikan ruang, pemerintah memberikan tempat dan ini bagian dari keadilan,” kata Wihaji.
Mendukbangga Wihaji juga menilai edukasi mengenai KB pria tidak cukup hanya diberikan kepada pelaksana program atau jajaran internal pemerintah. Informasi tersebut harus sampai kepada masyarakat yang menjadi sasaran layanan, terutama pasangan yang membutuhkan penjelasan ilmiah sebelum menentukan pilihan kontrasepsi.
Menurut dia, kehadiran tenaga medis dan praktisi yang dapat memberikan contoh konkret menjadi penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat. “Target kita ini bapak-bapak atau ibu-ibu yang memang butuh penjelasan ilmiah dari ahlinya, pelakunya,” ujar Wihaji.
Ia juga menyebut bahwa aspek keagamaan telah mendapatkan penjelasan dari ulama dan tokoh agama. Karena itu, edukasi mengenai KB pria dapat diperkuat melalui pendekatan yang memadukan penjelasan medis dengan pemahaman masyarakat mengenai aspek keagamaan.
Pastikan Layanan dan Pembiayaan
Peningkatan partisipasi KB pria juga perlu didukung kesiapan fasilitas dan pembiayaan. Wihaji meminta agar pertumbuhan jumlah pendaftar peserta KB pria terkoneksi dengan dukungan pembiayaan sehingga layanan dapat berjalan sesuai kebutuhan.
Menurut dia, peningkatan edukasi dan kampanye KB pria perlu diikuti dengan kesiapan layanan di lapangan. Jangan sampai jumlah masyarakat yang berminat mengikuti program tidak sejalan dengan dukungan pembiayaan yang tersedia. Karena itu, koordinasi antara pendaftaran peserta, fasilitas pelayanan, dan pembiayaan menjadi bagian penting dalam memperluas akses KB pria.
Disampaikan, kontrasepsi pada akhirnya hanyalah metode atau cara. Tujuan utama program KB tetap memastikan keluarga mampu merencanakan kehidupan dan memberikan dukungan yang optimal bagi generasi berikutnya. “Ini adalah metode, ini adalah cara. Yang paling utama adalah memastikan dengan cara ini generasi ke depan lebih baik,” ujar Mendukbangga.
Dengan peningkatan keterlibatan pria, pemerintah berharap tanggung jawab perencanaan keluarga dapat dibagi secara lebih seimbang. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memastikan keluarga memiliki kesiapan kesehatan reproduksi, kesehatan mental, kemampuan ekonomi, serta kapasitas memberikan gizi dan pengasuhan yang baik bagi anak.












