PM UPUD Universitas Dr Soetomo Mendukung Industri Hijau di IKM Batik Wahyulatri dan Poerwa Batik Probolinggo

PM UPUD UNIVERSITAS DR. SOETOMO MENDUKUNG INDUSTRI HIJAU DI IKM POERWO BATIK PROBOLINGGO

Lentera Post – Probolinggo – Komitmen perguruan tinggi dalam mendorong keberlanjutan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus diwujudkan secara konkret. Tim Program Pemberdayaan Mitra-Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), secara resmi meluncurkan program pendampingan komprehensif berbasis Industri Hijau (Green Industry) yang menyasar sentra kerajinan batik lokal di Kota Probolinggo.

Pelaksanaan program ini melibatkan dua mitra binaan utama di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, yakni IKM Poerwo Batik dan Batik Wahyulatri. Melalui integrasi teknologi bersih, efisiensi energi, serta tata kelola limbah terpadu, program ini bertujuan mentransformasi proses produksi batik tradisional menuju standar manufaktur ramah lingkungan (eco-friendly) yang bernilai ekonomi tinggi dan berdaya saing pasar global.

Urgensi Penerapan Prinsip Industri Hijau pada Sektor Batik

Industri batik merupakan salah satu warisan budaya adiluhung sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan yang potensial. Namun, proses pembatikan konvensional kerap dihadapkan pada tantangan ekologis, terutama terkait volume residu zat pewarna sintetis (kimia), penggunaan air baku dalam jumlah besar saat proses pelorotan malam (wax removal), serta tingginya konsumsi energi dan durasi pengerjaan pada tahap finishing.

Melihat kondisi tersebut, tim PM-UPUD Unitomo hadir membawa solusi terpadu melalui skema hilirisasi teknologi tepat guna. Langkah ini diambil agar geliat ekonomi kreatif di Kota Probolinggo tidak meninggalkan jejak kerusakan lingkungan, melainkan tumbuh harmonis bersama kelestarian ekosistem sekitar.

Ketua Tim PM-UPUD Unitomo, Dr. Dra. Fedianty Augustinah, MM, menegaskan bahwa transformasi menuju industri hijau bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan kebutuhan strategis bagi daya saing IKM modern.

“Kami melihat potensi luar biasa dari motif dan estetika yang dihasilkan oleh pengrajin di Poerwo Batik dan Batik Wahyulatri. Namun, agar produk lokal mampu menembus pasar premium yang semakin sadar lingkungan (green consumerism), rantai produksinya harus bersih dan efisien. Kami mengintegrasikan sistem pengolahan limbah mandiri, penghematan energi panas, serta modernisasi alat penjahitan presisi tinggi,” ungkap Dr. Fedianty.

Gambar 3 Pengecekan Teknologi IPAL yang diberikan kepada mitra 2 Poerwa Batik pada tanggal 08 Juli 2026

Inovasi Teknologi: IPAL di Poerwo Batik hingga Mesin Jahit Digital di Wahyulatri

Penerapan konsep industri hijau dan modernisasi produksi diwujudkan dalam pembagian intervensi teknologi konkret sesuai kebutuhan spesifik masing-masing mitra:

  • Optimalisasi Sistem IPAL Mandiri di IKM Poerwo Batik:

Pengrajin di IKM Poerwo Batik dibekali modul penyaringan air limbah batik multi-tahap (sedimentasi, filtrasi karbon aktif, dan netralisasi kimiawi/biologis). Sistem ini memastikan air sisa proses pewarnaan dan pelorotan lilin memiliki baku mutu yang aman sebelum dialirkan ke saluran umum, bebas dari racun dan bau menyengat guna mewujudkan clean production.

  • Pemanfaatan Teknologi Pengeringan Modern Berkelanjutan (Dry Room):

Mengatasi kendala cuaca saat musim penghujan, diaplikasikan teknologi ruang pengering inframerah hemat daya di IKM Poerwo Batik. Alat ini membuat pengeringan kain berlangsung higienis, warna tidak pudar, serta konsumsi energi jauh lebih efisien dibanding metode pemanas konvensional.

  • Efisiensi Penggunaan Malam dan Lilin Batik:

Peralatan kompor listrik/gas berpemanas stabil diperkenalkan untuk menjaga konsistensi cairan malam saat mencanting atau mencap, meminimalkan lilin gosong (overheating), dan menekan emisi asap di ruang kerja pembatik.

  • Implementasi Mesin Jahit Digital Otomatis di Batik Wahyulatri:

Untuk memperkuat lini hilirisasi dan diversifikasi produk busana jadi, Batik Wahyulatri dibekali unit mesin jahit digital otomatis. Teknologi ini meningkatkan kecepatan penjahitan, menghasilkan pola jahitan yang rapi dan presisi tinggi, serta menghemat konsumsi daya listrik bengkel kerja.

Gambar 4 Pelatihan dan Pengoperasian Mesin Jahit Digital Otomatis pada Sektor Finishing di Batik Wahyulatri pada tanggal 15 Juli 2026

Gambar 5 Pelatihan, pendampingan dan praktek design fashion pada tanggal 22 Juli 2026

Dampak Positif: Menekan Biaya Operasional dan Meningkatkan Kapasitas Produksi

Pemilik IKM Poerwo Batik dan Batik Wahyulatri menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas perhatian dan pendampingan berkelanjutan dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya dan Kemendiktisaintek. Dengan adanya pembaharuan sistem kerja ini, efisiensi biaya bahan baku dan kecepatan siklus produksi meningkat signifikan.

“Dulu saat musim hujan, proses pengeringan bisa memakan waktu berhari-hari dan rawan merusak warna batik. Sekarang dengan teknologi ruang pengering, penataan IPAL yang ramah lingkungan, serta dukungan alat jahit otomatis modern bagi mitra kami, pesanan dapat diselesaikan tepat waktu tanpa mencemari lingkungan pemukiman,” tutur perwakilan pengrajin.

Selain aspek teknis, program PM-UPUD membekali mitra dengan literasi green branding dan sertifikasi produk ramah lingkungan agar label “Batik Berkelanjutan” menjadi nilai jual unik (unique selling point) di ajang pameran regional, nasional, hingga ekspor.

Membangun Kolaborasi Berkelanjutan (Triple Helix)

Program pengabdian masyarakat ini menjadi bukti nyata sinergi model Triple Helix—kolaborasi antara perguruan tinggi sebagai pusat riset dan inovasi, pemerintah pusat/daerah melalui skema pendanaan Kemendiktisaintek, serta dunia usaha/IKM sebagai pelaksana lapangan.

Ke depan, tim PM-UPUD Universitas Dr. Soetomo memproyeksikan IKM Poerwo Batik dan Batik Wahyulatri sebagai sentra rujukan (benchmarking) penerapan industri hijau bagi IKM batik lain di kawasan Probolinggo dan Jawa Timur, membuktikan bahwa pelestarian tradisi nusantara mampu berjalan beriringan dengan kelestarian bumi dan modernisasi teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *