Jakarta, 15 Juli 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melaksanakan Program SERASI (Structured Environment for Inclusive Education) di SDN 14 Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Program ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua melalui pendekatan parent empowerment guna mendukung optimalisasi perkembangan anak berkebutuhan khusus di lingkungan pendidikan inklusif.
Kegiatan tersebut diikuti oleh kepala sekolah, guru, orang tua peserta didik, serta tim dosen dan mahasiswa UNJ. Selama kegiatan, peserta memperoleh materi mengenai pentingnya kolaborasi rumah dan sekolah, strategi pendampingan anak berkebutuhan khusus di lingkungan keluarga, serta praktik komunikasi efektif antara guru dan orang tua. Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif dan sesi berbagi pengalaman untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.
Kepala SDN 14 Jatinegara Kaum menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Program SERASI sebagai upaya memperkuat implementasi pendidikan inklusif di sekolah. Menurutnya, setiap anak memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Setiap anak itu unik dan memiliki potensi yang berbeda-beda. Karena itu, kita perlu memahami karakteristik mereka secara lebih mendalam agar layanan pendidikan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Satuan Pendidikan menilai bahwa keberhasilan pendidikan inklusif memerlukan sinergi seluruh pihak, terutama guru dan orang tua.
“Setiap anak memiliki keunggulan dan tantangannya masing-masing. Hal tersebut harus menjadi motivasi bagi kita untuk memberikan pendampingan dan layanan pendidikan yang tepat sehingga potensi setiap anak dapat berkembang secara optimal,” katanya.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Kholifatul Novita Ningsih, M.Pd., menjelaskan bahwa Program SERASI dikembangkan sebagai model kolaborasi rumah dan sekolah yang menempatkan orang tua sebagai mitra aktif dalam proses pendidikan anak berkebutuhan khusus.
“Pendidikan inklusif tidak dapat berjalan optimal apabila hanya mengandalkan sekolah. Rumah dan sekolah harus memiliki tujuan, strategi, dan komunikasi yang selaras. Melalui Program SERASI, kami ingin membangun kemitraan yang kuat antara guru dan orang tua sehingga anak memperoleh pendampingan yang konsisten, baik di sekolah maupun di rumah,” jelas Kholifatul.

Pelaksanaan Program SERASI dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya berbagai tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, khususnya belum optimalnya komunikasi dan kolaborasi antara sekolah dengan orang tua. Padahal, keberhasilan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga oleh kesinambungan pendampingan yang diberikan di lingkungan keluarga.
Melalui pendekatan parent empowerment, Program SERASI mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam setiap proses pendampingan anak. Model ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman orang tua terhadap kebutuhan belajar anak, memperkuat komunikasi dengan guru, serta menciptakan kesinambungan strategi pembelajaran antara rumah dan sekolah.
Program ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Universitas Negeri Jakarta. Ke depan, model kolaborasi rumah–sekolah berbasis parent empowerment ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai satuan pendidikan sebagai salah satu praktik baik dalam memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia. (Haikal/Vita)












