Lentera Post – BOGOR — Wisuda Qur’an ke-9 yang diselenggarakan elTAHFIDH Indonesia dinilai sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam penguatan pendidikan karakter dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Sebanyak 170 hafidz dan hafidzah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti prosesi wisuda yang turut dihadiri tokoh nasional, akademisi, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintah daerah di Cileungsi.
Kegiatan ini hadir di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap tantangan moral generasi muda, mulai dari tawuran, penyalahgunaan narkoba, judi online, hingga rendahnya literasi adab di era digital.
Dalam sambutannya, Camat Cileungsi menegaskan bahwa pembinaan generasi muda saat ini membutuhkan sinergi antara pendidikan akademik, penguatan spiritual, dan keteladanan karakter.
“Anak-anak muda tidak cukup hanya cerdas secara akademik. Mereka juga harus memiliki akhlak, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Program tahfidz seperti ini sangat membantu pembangunan karakter generasi bangsa,” ujarnya.
Gerakan pendidikan karakter sendiri menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam sistem pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.
Pemerintah juga memperkuat arah tersebut melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menekankan pentingnya harmonisasi olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga dalam pembentukan peserta didik.
Selain itu, kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) juga terus mendorong pendidikan yang berorientasi pada karakter, kepemimpinan, literasi, dan kesiapan generasi muda menghadapi tantangan global.
Founder elTAHFIDH Indonesia, Dr. H. Jhon Edy Rahman S.H.,M.Kn. menjelaskan bahwa pendidikan Al-Qur’an tidak boleh dipahami hanya sebatas hafalan, tetapi harus melahirkan generasi yang memiliki integritas, jiwa kepemimpinan, dan semangat pengabdian kepada bangsa.

Menurutnya, bonus demografi Indonesia harus dijawab dengan pembinaan karakter yang kuat agar generasi muda mampu menjadi kekuatan pembangunan nasional, bukan justru menghadapi krisis moral dan sosial.
“Kami ingin melahirkan generasi Qur’ani yang unggul dalam akhlak, kepemimpinan, disiplin, dan kontribusi sosial. Ini sejalan dengan arah pembangunan SDM Indonesia yang saat ini menjadi fokus pemerintah,” jelasnya.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis Al-Qur’an, elTAHFIDH Indonesia juga mengembangkan pembinaan olahraga, kepemimpinan, literasi digital, dan penguatan mental bagi para santri sebagai bagian dari pendidikan karakter terpadu.
Model pendidikan seperti ini dinilai aplikatif karena tidak hanya membentuk kemampuan akademik dan hafalan, tetapi juga membangun budaya disiplin, kerja sama, tanggung jawab, serta ketahanan mental generasi muda.
Melalui wisuda 170 hafidz Qur’an ini, elTAHFIDH Indonesia berharap lahir gerakan pendidikan karakter yang semakin luas di berbagai daerah Indonesia dan mampu menjadi bagian dari solusi pembangunan manusia Indonesia yang unggul, berdaya saing, dan berakhlak mulia.












