Gelar Pelatihan Dan Sertifikasi CIJ AR Learning Secara Daring

LenteraPost-Kemampuan menulis berita tidak cukup hanya dengan mampu merangkai kata. Seorang jurnalis dituntut memiliki ketelitian dalam mencari fakta, memahami kode etik, melakukan verifikasi informasi, serta mampu menyajikan peristiwa kepada publik secara bertanggung jawab. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelatihan dan sertifikasi Certified Indonesian Journalist (CIJ) yang diselenggarakan oleh AR Learning Center.

Pelatihan CIJ menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk mengenal dunia jurnalistik secara lebih komprehensif. Kegiatan tersebut tidak hanya membahas teori mengenai jurnalistik, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai bagaimana seorang jurnalis bekerja mulai dari menemukan ide berita, menentukan nilai berita, melakukan wawancara, mengolah informasi, hingga menyusun berita yang memenuhi kaidah jurnalistik.

Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan oleh Adityas Rahadi. Ia memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya membangun pola pikir jurnalistik sebelum seseorang mulai menulis sebuah berita. Menurutnya, aktivitas jurnalistik tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membaca situasi dan menemukan fakta yang memiliki nilai bagi masyarakat.

Adityas menekankan bahwa seorang jurnalis harus mampu membedakan antara fakta, opini, asumsi, dan informasi yang belum terverifikasi. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan media digital yang membuat informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Kecepatan menyampaikan informasi, menurut materi yang disampaikan dalam pelatihan, tetap harus berjalan beriringan dengan ketepatan dan tanggung jawab jurnalistik.

Pelatihan tersebut juga memperkenalkan peserta pada berbagai unsur penting dalam sebuah berita. Peserta diarahkan untuk memahami unsur 5W+1H, yakni what, who, when, where, why, dan how. Keenam unsur tersebut menjadi fondasi agar sebuah berita mampu memberikan informasi yang utuh kepada pembaca dan tidak meninggalkan pertanyaan mendasar mengenai peristiwa yang diberitakan.

Selain memahami unsur berita, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai kode etik jurnalistik. Materi ini penting karena pekerjaan jurnalistik memiliki konsekuensi terhadap publik. Sebuah informasi yang ditulis secara tidak akurat dapat menimbulkan kesalahpahaman, sementara berita yang tidak melalui proses verifikasi berpotensi merugikan pihak tertentu.

Adityas juga mengarahkan peserta untuk tidak melihat jurnalistik sekadar sebagai aktivitas menulis. Menulis berita merupakan tahap akhir dari proses panjang yang dimulai dari pencarian informasi. Seorang jurnalis harus terlebih dahulu mengamati persoalan, menentukan narasumber, melakukan wawancara, mengumpulkan data, melakukan pengecekan fakta, kemudian menyusun informasi tersebut menjadi berita yang mudah dipahami masyarakat.

Pendekatan praktik menjadi bagian penting dalam pelatihan CIJ. Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk mempraktikkan keterampilan jurnalistik. Dengan demikian, peserta dapat memahami secara langsung tantangan yang muncul ketika harus mengubah sebuah peristiwa menjadi tulisan berita.

Pelatihan tersebut juga relevan dengan perkembangan ekosistem media digital. Saat ini masyarakat tidak hanya memperoleh berita melalui media cetak dan televisi, tetapi juga melalui portal berita, media sosial, dan berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap kemampuan jurnalistik semakin luas, bukan hanya bagi wartawan profesional, tetapi juga bagi mahasiswa, penulis, pengelola media, maupun masyarakat yang aktif memproduksi informasi.

AR Learning Center sendiri sebelumnya juga menyelenggarakan pelatihan CIJ secara daring yang diikuti peserta dari berbagai daerah dan lintas profesi. Dalam pelatihan tersebut, materi mencakup kode etik, tugas dan tanggung jawab wartawan, peran pers di tengah masyarakat, serta unsur-unsur yang diperlukan dalam mencari berita. Peserta juga diberikan tugas praktik sebagai bagian dari proses pelatihan.

Bagi peserta, pola pelatihan tersebut memberikan pengalaman bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar memiliki kemampuan menulis. Seorang jurnalis harus memiliki kepekaan terhadap lingkungan, keberanian menggali informasi, kemampuan bertanya, ketelitian memeriksa fakta, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Pelatihan CIJ AR Learning pada akhirnya menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pengetahuan jurnalistik dengan praktik di lapangan. Materi yang disampaikan Adityas Rahadi mendorong peserta untuk memahami bahwa kualitas berita sangat ditentukan oleh kualitas proses jurnalistik yang dilakukan sebelum berita tersebut dipublikasikan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Masyarakat membutuhkan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, pelatihan jurnalistik seperti CIJ dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa setiap informasi yang dipublikasikan memiliki konsekuensi sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *