Lentera Post – SIDOARJO — Membuat tote bag mungkin terlihat sebagai kegiatan sederhana. Namun, bagi ibu-ibu PKK di Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar untuk melihat potensi, mengasah kreativitas, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk memulai sesuatu yang produktif.
Pengalaman itu hadir melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Pendampingan Komunitas (PPK) Universitas Surabaya (UBAYA) dengan tema Pemberdayaan Kreativitas Ibu Rumah Tangga RT 03, RW 01 Kelurahan Lemahputro, Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan yang mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UBAYA tersebut mengajak peserta memanfaatkan limbah perca untuk menghias tote bag.
Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada keterampilan membuat produk. UBAYA juga membawa pesan yang lebih besar: bahwa setiap orang memiliki potensi untuk belajar, berkarya, dan menciptakan peluang dari hal-hal yang ada di sekitarnya.
Berawal dari Hal Sederhana
Kegiatan diawali dengan sharing mengenai semangat belajar berbisnis. Para peserta diajak mengenali potensi diri dan memahami bahwa memulai usaha tidak harus selalu dari sesuatu yang besar.
Keberanian untuk memulai dari skala kecil, kemauan belajar, serta keterbukaan terhadap pengetahuan baru menjadi bagian dari materi yang diberikan.
Peserta juga diajak memahami pentingnya sikap jujur, rajin, pantang menyerah, dan mau terus belajar dalam menjalankan sebuah usaha.
Pesan tersebut menjadi penting karena pemberdayaan masyarakat tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis. Lebih dari itu, diperlukan kepercayaan diri dan keberanian untuk mengubah keterampilan menjadi sesuatu yang produktif.
Limbah Perca Berubah Menjadi Karya
Setelah mendapatkan pembekalan, peserta diajak mempraktikkan cara menghias tote bag dengan memanfaatkan potongan kain atau limbah perca.
Potongan kain yang sebelumnya tidak terpakai diolah menjadi bagian dari desain tote bag. Peserta dapat mengeksplorasi kreativitas mereka dengan memanfaatkan material yang tersedia di sekitar.
Melalui praktik tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep ekonomi sirkular (circular economy), yaitu pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai agar masa gunanya dapat diperpanjang.
Bagi ibu-ibu peserta, konsep tersebut sekaligus membuka cara pandang baru. Limbah tidak selalu berarti sesuatu yang harus dibuang. Dengan kreativitas dan keterampilan, material sisa dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki fungsi dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Membuka Peluang dari Rumah
Bagi ibu rumah tangga, kegiatan produktif yang dapat dilakukan dari lingkungan rumah memiliki potensi tersendiri.
Keterampilan mengolah limbah tekstil menjadi produk kreatif dapat dikembangkan secara bertahap, baik sebagai aktivitas produktif maupun sebagai peluang usaha.
Karena itu, UBAYA tidak hanya memberikan pelatihan satu kali. Tim PPK juga membagikan buku “Reka Daur Ulang Tekstil: Teknik-teknik Pemanfaatan Limbah Perca dan Pakaian Pascakonsumsi” kepada para peserta.
Buku tersebut menjadi bekal untuk mengenal berbagai teknik pemanfaatan limbah tekstil dan mendorong peserta untuk terus mencoba mengembangkan produk secara mandiri.
Dengan bekal tersebut, proses belajar diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi dapat dilanjutkan di lingkungan masyarakat.
Kolaborasi Ilmu dari Berbagai Fakultas
Program pendampingan ini melibatkan kolaborasi dosen lintas fakultas di UBAYA.
Dr. Ninik Juniati dari Fakultas Industri Kreatif (FIK) menjadi ketua tim, bersama Esti Dwi Rinawiyanti, Ph.D. dari Fakultas Teknik (FT) dan Dr. Erna Andajani dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) sebagai anggota. Kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa FIK.
Kolaborasi lintas keilmuan tersebut memungkinkan kegiatan pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam, mulai dari kreativitas produk, aspek teknis, hingga perspektif bisnis.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa ilmu yang berkembang di perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan dan potensi yang ada di masyarakat.
UBAYA Dorong Masyarakat Berani Berkembang
Manajer Pengabdian Masyarakat LPPM UBAYA, Utomo, memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan tim UBAYA di Kelurahan Lemahputro.
Menurutnya, program tersebut memberikan inspirasi karena menggabungkan kreativitas, kepedulian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Program ini sangat menginspirasi karena menggabungkan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan seperti ini juga berpotensi memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya ibu-ibu di Kelurahan Lemahputro, Sidoarjo,” ujarnya.
Menurut Utomo, kehadiran perguruan tinggi di masyarakat diharapkan tidak hanya menghasilkan kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat terus dikembangkan masyarakat.
Tote Bag Hanya Awal
Pada akhirnya, tote bag hanyalah salah satu hasil dari kegiatan tersebut. Nilai yang lebih penting adalah pengalaman yang dibawa pulang oleh para peserta: keberanian untuk mencoba, kreativitas untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, serta keyakinan bahwa keterampilan sederhana pun dapat dikembangkan menjadi peluang.
Dari potongan kain, ibu-ibu Lemahputro belajar menciptakan karya. Dari sebuah karya, mereka belajar melihat peluang. Dan dari peluang tersebut, tumbuh harapan untuk menjadi lebih produktif dan mandiri.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat ini, UBAYA terus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena bagi UBAYA, pengabdian bukan sekadar memberikan pelatihan, melainkan ikut menyalakan semangat masyarakat untuk terus belajar, berkarya, dan berani mandiri.












