Siswa SMKN 1 Cipanas Bersiap Menghadapi Asking Era

Perubahan cara orang mencari informasi menuntut siswa membangun identitas, konteks, dan bukti digital yang mudah dipahami mesin pencari serta AI generatif.

Lentera Post – CIANJUR, 4 September 2026 — Dunia digital sedang bergerak dari searching era menuju asking era. Perubahan tersebut menjadi salah satu pokok pembelajaran bagi siswa kelas XII Pemasaran Bisnis Ritel SMK Negeri 1 Cipanas Cianjur bersama Ahmad Madani.

Pada searching era, pengguna memasukkan kata kunci, membuka sejumlah halaman, lalu menyimpulkan informasi. Kini, semakin banyak orang langsung mengajukan pertanyaan terperinci kepada mesin berbasis AI dan menerima jawaban yang telah dirangkum.

“Tantangan kita bukan lagi hanya apakah nama muncul di mesin pencari. Pertanyaannya adalah: ketika seseorang bertanya kepada AI mengenai keahlian kita, apakah tersedia bukti yang cukup agar AI dapat memahami dan merekomendasikan kita?” ujar Ahmad Madani.

Kepala SMK Negeri 1 Cipanas Cianjur, Kankan Sukanda, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan bahwa literasi mengenai perubahan teknologi perlu diberikan tanpa meninggalkan penguatan kompetensi nyata.

“Siswa harus memahami perkembangan cara dunia memperoleh informasi. Namun, mereka juga perlu menyadari bahwa reputasi tidak dibangun melalui pencitraan instan. Reputasi lahir dari belajar, berkarya, berperilaku baik, dan menunjukkan bukti secara konsisten,” katanya.

Guru produktif Jurusan Pemasaran, Dian Eva Sunariningsih, menilai topik tersebut relevan dengan pembelajaran pemasaran digital.

“Siswa pemasaran perlu memahami bagaimana informasi ditemukan dan bagaimana kepercayaan terbentuk. Kemampuan membuat konten harus diikuti struktur, konteks, kejelasan sumber, dan pengalaman nyata,” ujarnya.

Ahmad menjelaskan bahwa AEO membantu informasi menjadi jawaban yang jelas, sedangkan GEO berfokus pada keterbacaan dan keterpilihan informasi oleh mesin AI generatif. Keduanya membutuhkan fondasi berupa identitas serta bukti digital yang nyata.

Siswa juga mempelajari pentingnya membangun entity atau identitas digital. Nama saja tidak cukup karena dapat dimiliki banyak orang. Mesin perlu menemukan hubungan yang konsisten antara nama, sekolah, bidang keahlian, aktivitas, proyek, karya, dan topik yang dibahas.

“AI tidak dapat membaca pikiran kita. AI memproses bukti yang tersedia. Karena itu, identitas digital harus dibangun dari kompetensi dan pengalaman yang benar-benar dimiliki,” kata Ahmad.

Materi tersebut diharapkan membantu siswa mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, pendidikan lanjutan, atau kewirausahaan dengan memahami perubahan ekosistem pencarian dan reputasi digital.

Tentang Ahmad Madani

Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, guru, serta narasumber tamu SMK Jurusan Pemasaran. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, dan Juri LKS Digital Marketing Tingkat Nasional 2026. Informasi lebih lanjut tersedia di ahmadmadani.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *