Ancaman pencemaran udara kembali mengemuka. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), aktivitas vulkanik Anak Krakatau, dan polusi kendaraan bermotor datang hampir bersamaan di berbagai daerah. Untungnya, kita bisa cek kualitas udara hanya lewat genggaman tangan, tanpa perlu menunggu laporan resmi dari media.
Artikel ini membahas dua cara paling mudah untuk cek kualitas udara: lewat aplikasi pihak ketiga dan lewat data resmi pemerintah. Sebelum itu, mari pahami dulu istilah PM2.5 dan PM10 yang sering muncul di topik ini. Memahami istilah ini akan membuat hasil pengecekan lebih mudah dimengerti.
Cara Cek Kualitas Udara Lewat Aplikasi IQAir
Kamu bisa cek kualitas udara dengan cara paling praktis: memanfaatkan aplikasi pemantau seperti IQAir AirVisual. Aplikasi ini tersedia gratis di Android maupun iOS.
Tutorial Singkat: Cek Kualitas Udara via Aplikasi IQAir AirVisual
Ikuti tahapan berikut:
- Unduh dan pasang aplikasinya. Cari “IQAir AirVisual” di Play Store atau App Store. Instal seperti biasa.
- Buka aplikasi dan beri izin lokasi. Aplikasi akan meminta akses lokasi saat pertama kali dijalankan. Izinkan agar data yang muncul sesuai posisi kita.
- Lihat angka AQI di layar utama. Angka ini menjadi indikator umum. Semakin tinggi nilainya, semakin buruk kondisi udaranya.
- Geser layar untuk cek detail PM2.5 dan PM10. Jangan berhenti di angka AQI saja. Rincian partikel ini membantu kita melihat sumber pencemarannya.
- Tambahkan lokasi lain jika perlu dibandingkan. Fitur ini berguna untuk membandingkan kondisi udara di rumah dengan kantor, atau kota asal dengan kota tujuan mudik.
Satu hal penting: jangan hanya terpaku pada angka AQI. Saat karhutla terjadi atau gunung berapi sedang aktif, data PM2.5 dan PM10 justru lebih penting untuk diperhatikan. Data ini menggambarkan jenis pencemaran secara lebih spesifik.
Apa Sebenarnya PM2.5 dan PM10 Itu?
Banyak orang masih asing dengan istilah PM2.5 dan PM10. Padahal, keduanya menjadi indikator penting saat kita cek kualitas udara di suatu wilayah.
PM2.5 adalah partikel udara berdiameter di bawah 2,5 mikrometer. Ukurannya sangat halus, sehingga partikel ini bisa menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Bahkan, partikel ini berpotensi masuk ke aliran darah. Sementara itu, PM10 berukuran lebih besar. Partikel ini biasanya berasal dari debu jalanan, asap kendaraan, kegiatan industri, atau proyek konstruksi.
Perlu digarisbawahi: angka PM2.5 atau PM10 yang tinggi di suatu wilayah tidak selalu berkaitan dengan karhutla atau letusan gunung berapi. Kondisi udara bisa berbeda signifikan antar sudut kota yang sama. Faktor arah angin, cuaca, dan tingkat polusi lokal ikut memengaruhi hal ini. Karena itu, periksa titik pemantauan terdekat agar hasil cek kualitas udara benar-benar mencerminkan kondisi asli di lokasi kita.
Cek Kualitas Udara Lewat Data Resmi BMKG
Selain aplikasi pihak ketiga, kita juga bisa cek kualitas udara langsung lewat data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Situs ini menyediakan informasi lengkap: konsentrasi PM2.5, titik panas (hotspot), sebaran kabut asap, kondisi atmosfer, hingga jangkauan abu vulkanik dari letusan gunung berapi.
Tutorial Singkat: Cek Data Resmi Kualitas Udara di Situs BMKG
Ikuti langkah berikut:
- Buka situs resmi BMKG lewat browser di HP atau laptop.
- Pilih menu “Kualitas Udara”. Menu ini biasanya ada di navigasi utama halaman.
- Klik submenu “Konsentrasi Partikulat (PM2.5)” untuk melihat peta sebaran kadar partikel di seluruh Indonesia.
- Ketik nama kota di kolom pencarian untuk mempersempit data ke lokasi yang kamu mau.
- Perhatikan kategori warnanya: hijau (baik), biru (sedang), kuning (tidak sehat), merah (sangat tidak sehat), dan ungu (berbahaya).
- Cek juga menu terkait lain, seperti kabut asap, hotspot, atau sebaran abu vulkanik, saat ada isu karhutla atau erupsi gunung berapi.
Data resmi ini berguna sebagai rujukan, terutama saat musim karhutla atau ketika gunung berapi menunjukkan aktivitas meningkat. Kita juga bisa memakainya sebagai pembanding saat cek kualitas udara lewat aplikasi cuaca komersial.
Kenapa Rutin Cek Kualitas Udara Itu Penting?
Kita kini punya dua sumber informasi: aplikasi berbasis komunitas seperti IQAir, dan data institusional dari BMKG. Kedua sumber ini memberi modal yang cukup untuk mengambil keputusan harian. Kita jadi tahu kapan perlu memakai masker di luar ruangan, kapan sebaiknya menunda olahraga outdoor, dan kapan harus mewaspadai gangguan pernapasan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru.
Cuaca makin tak menentu. Bencana alam datang silih berganti. Di tengah situasi ini, kebiasaan sederhana cek kualitas udara sebelum beraktivitas bisa jadi langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan jangka panjang.












