BUKAN SEKADAR STIK ES KRIM, MEDIA SEDERHANA INI BANTU ANAK LAMBAT BELAJAR PAHAMI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN

Oleh: [Indina Tarjiah]

Lentera Post – JAKARTA TIMUR – Dalam upaya memperkuat layanan pendidikan inklusif di tingkat sekolah dasar, sebuah upaya langkah inovatif yang dihadirkan oleh tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Indina Tarjiah, M.Pd. Melalui pengembangan pembelajaran matematika dasar berbasis pendekatan scaffolding dan media papan berhitung untuk anak lambat belajar.

Rangkaian implementasi dan uji coba lapangan yang dilakukan di SDN Jatinegara Kaum 14, melibatkan kolaborasi dari tim dosen (Prof. Dr. Asep Supena, M.Psi., Neddyana Pahlawaty, M.Pd, dan Dr. Septiyani Endang Yunitasari, M.Pd.), tim mahasiswa (Anissa Rizky A. dan Syifa Syauqiyah).

Bagi sebagian anak, memahami penjumlahan dan pengurangan bukanlah perkara mudah. Angka dan simbol matematika yang terlihat sederhana bagi sebagian siswa dapat menjadi sesuatu yang cukup menantang bagi anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami informasi dan menyelesaikan tugas belajar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pembelajaran di sekolah inklusi. Anak lambat belajar, misalnya, umumnya membutuhkan waktu, pengulangan, arahan, dan dukungan yang lebih terstruktur agar dapat memahami materi pembelajaran.

Namun, kesulitan tersebut bukan berarti anak tidak dapat belajar.

Dengan cara mengajar yang sesuai, penggunaan media konkret, serta bantuan yang diberikan secara bertahap, anak dapat memperoleh kesempatan untuk memahami materi sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajarnya.

Hal tersebut terlihat dalam penerapan pembelajaran matematika pada anak lambat belajar kelas IV di SDN Jatinegara Kaum 14, Jatinegara, Jakarta Timur. Pembelajaran penjumlahan dan pengurangan dilakukan dengan memadukan pendekatan scaffolding dan media sederhana berupa papan berhitung serta stik es krim.

Hasil uji coba menunjukkan perubahan positif. Nilai seluruh siswa meningkat setelah mengikuti pembelajaran.

Ketika Angka Berubah Menjadi Benda yang Bisa Dipegang

Bagi anak yang mengalami kesulitan memahami konsep matematika, angka dan simbol terkadang terasa terlalu abstrak.

Karena itu, pembelajaran tidak langsung dimulai dari lembar soal. Anak terlebih dahulu diajak berinteraksi dengan benda konkret.

Stik es krim digunakan untuk mewakili bilangan. Anak dapat menghitung, mengelompokkan, menambahkan, dan mengurangi stik secara langsung menggunakan papan berhitung.

Misalnya, untuk memahami soal 24 + 13, anak terlebih dahulu membuat kelompok 24 stik dan kelompok 13 stik. Kedua kelompok kemudian digabungkan. Anak menghitung jumlah seluruh stik dan selanjutnya diarahkan untuk menghubungkan hasil tersebut dengan simbol matematika.

Pada pengurangan, prosesnya dilakukan dengan cara yang serupa. Untuk memahami 35 − 12, anak membuat kelompok 35 stik kemudian mengambil 12 stik. Anak selanjutnya menghitung jumlah stik yang tersisa.

Dengan cara tersebut, anak tidak hanya diminta menghafalkan bahwa 35 dikurangi 12 sama dengan 23. Anak mengalami sendiri proses “mengurangi” melalui benda yang dapat dilihat dan disentuh.

Anak Lambat Belajar Membutuhkan Waktu, Bukan Tekanan

Salah satu hal penting dalam pembelajaran anak lambat belajar adalah memberikan kesempatan untuk memahami materi sesuai dengan kecepatannya.

Anak tidak selalu dapat mengikuti proses pembelajaran dengan tempo yang sama seperti teman-temannya. Karena itu, guru perlu memberikan waktu yang cukup, pengulangan, instruksi yang jelas, serta bantuan ketika anak mengalami kesulitan.

Pendekatan scaffolding digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Prinsipnya sederhana: guru memberikan bantuan ketika anak membutuhkan, kemudian secara bertahap mengurangi bantuan ketika anak mulai mampu.

Pada awal pembelajaran, guru memberikan contoh dan menunjukkan langkah penyelesaian. Ketika anak mulai mencoba, guru memberikan petunjuk dan pertanyaan pengarah.

Misalnya, ketika anak menghadapi soal penjumlahan, guru dapat bertanya, “Berapa stik yang pertama?” kemudian, “Berapa yang harus ditambahkan?” Setelah itu, anak diarahkan untuk menghitung hasilnya.

Jika anak masih mengalami kesulitan, guru dapat memberikan contoh kembali. Namun, ketika anak mulai memahami proses, guru memberikan kesempatan untuk mencoba sendiri.

Dengan demikian, bantuan guru bukan untuk menggantikan usaha anak, tetapi untuk membantu anak melewati bagian yang belum dapat dilakukan secara mandiri.

Dari Nilai 20 Menjadi 80

Penerapan pembelajaran tersebut kemudian diuji coba secara terbatas kepada empat anak lambat belajar kelas IV.

Sebelum pembelajaran, anak diberikan pra-uji untuk mengetahui kemampuan awal. Setelah mengikuti rangkaian pembelajaran, anak diberikan posttest untuk melihat perubahan hasil belajar.

Hasilnya menunjukkan peningkatan pada seluruh anak.

R1 memperoleh nilai 20 pada pra-uji dan meningkat menjadi 80 pada posttest, atau mengalami peningkatan sebesar 60 poin.

R2 meningkat dari 80 menjadi 90. R3 meningkat dari 30 menjadi 60, sedangkan R4 meningkat dari 60 menjadi 100.

Secara keseluruhan, rata-rata nilai meningkat dari 47,50 pada pra-uji menjadi 82,50 pada posttest. Rata-rata peningkatannya mencapai 35 poin.

Tidak ada anak yang mengalami penurunan nilai setelah mengikuti pembelajaran.

Hasil tersebut memberikan gambaran awal mengenai adanya perubahan positif setelah anak mengikuti pembelajaran penjumlahan dan pengurangan dengan pendekatan scaffolding dan media papan berhitung.

Namun, karena uji coba dilakukan hanya pada empat anak dan tidak menggunakan kelompok pembanding, hasil tersebut belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa pendekatan ini pasti efektif untuk seluruh anak lambat belajar. Hasil ini lebih tepat dipandang sebagai temuan awal yang menunjukkan potensi pendekatan tersebut dalam pembelajaran matematika di kelas inklusi.

Setiap Anak Memiliki Titik Awal yang Berbeda

Data hasil belajar juga memperlihatkan bahwa setiap anak memiliki kemampuan awal yang berbeda. R1 yang memperoleh nilai awal 20 mengalami peningkatan paling besar, yaitu 60 poin. Sementara itu, R2 yang sudah memperoleh nilai 80 pada pra-uji mengalami peningkatan 10 poin menjadi 90.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak selalu harus diukur dari besarnya peningkatan yang sama pada setiap anak.

Dalam pendidikan inklusif, yang lebih penting adalah melihat perkembangan anak berdasarkan kemampuan awalnya. Anak yang sebelumnya belum mampu menyelesaikan soal kemudian mampu menyelesaikan sebagian besar soal merupakan sebuah perkembangan. Demikian pula anak yang sebelumnya memperoleh nilai 80 dan kemudian mencapai 90 juga menunjukkan perkembangan.

Karena itu, guru perlu melihat proses dan perkembangan individual, bukan hanya membandingkan seorang anak dengan anak lainnya.

Media Sederhana, Pengalaman Belajar Lebih Konkret

Papan berhitung dan stik es krim merupakan media yang sederhana. Namun, kesederhanaan tersebut justru membuat media mudah digunakan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Guru dapat mengatur jumlah stik sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Ketika anak sudah memahami bilangan sederhana, tingkat kesulitan dapat ditingkatkan secara bertahap.

Media tersebut juga memungkinkan anak belajar melalui aktivitas langsung.

Anak dapat memegang benda, menghitungnya, mengelompokkan, menambahkan, mengambil, kemudian menghitung kembali. Pengalaman tersebut membantu anak menghubungkan konsep konkret dengan simbol matematika.

Bagi anak lambat belajar, proses seperti ini dapat menjadi jembatan sebelum mereka mampu memahami operasi hitung secara lebih abstrak.

Guru Tidak Harus Selalu Memberikan Jawaban

Salah satu hal penting dari pendekatan scaffolding adalah bagaimana guru memberikan bantuan. Ketika anak melakukan kesalahan, guru tidak harus langsung mengatakan jawabannya.

Guru dapat memberikan pertanyaan yang mengarahkan anak untuk menemukan kesalahannya sendiri.

“Berapa stik yang kamu punya?”

“Berapa yang harus ditambahkan?”

“Kalau diambil 5, berapa yang tersisa?”

Pertanyaan sederhana tersebut membantu anak mengingat kembali langkah yang harus dilakukan.

Ketika anak sudah mampu, guru mulai mengurangi bantuan.

Dengan demikian, proses belajar bergerak dari dibantu guru menuju mampu melakukan sendiri. Inilah salah satu tujuan penting dari scaffolding: bukan membuat anak terus bergantung pada bantuan, tetapi membantu anak menjadi lebih mandiri.

Belajar Matematika Tidak Harus Selalu dengan Pensil dan Kertas

Pengalaman pembelajaran di SDN Jatinegara Kaum 14 memberikan gambaran bahwa pembelajaran matematika untuk anak lambat belajar dapat dilakukan melalui aktivitas yang sederhana dan konkret.

Tidak semua inovasi pendidikan harus menggunakan perangkat digital atau teknologi yang mahal.

Sebuah papan berhitung dan stik es krim dapat menjadi media pembelajaran ketika digunakan dengan tujuan yang jelas dan dipadukan dengan strategi pembelajaran yang tepat.

Yang terpenting bukan seberapa canggih medianya, tetapi bagaimana media tersebut membantu anak memahami konsep yang sedang dipelajari.

Lebih dari Sekadar Nilai

Peningkatan nilai merupakan salah satu hasil yang dapat diamati. Namun, pembelajaran bagi anak lambat belajar memiliki makna yang lebih luas.

Anak perlu mendapatkan pengalaman bahwa mereka mampu belajar ketika diberikan waktu dan dukungan yang sesuai.

Ketika seorang anak yang sebelumnya mendapatkan nilai 20 kemudian mampu mencapai nilai 80, perubahan tersebut bukan hanya angka.

Di balik angka tersebut terdapat proses mencoba, melakukan kesalahan, mendapatkan bantuan, mencoba kembali, dan akhirnya mampu menyelesaikan tugas.

Pengalaman keberhasilan seperti itu dapat menjadi bagian penting dalam membangun keyakinan anak bahwa ia mampu belajar.

Sekolah Inklusi Membutuhkan Pembelajaran yang Fleksibel

Pembelajaran anak lambat belajar mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada anak yang dapat memahami materi setelah satu kali penjelasan. Ada pula anak yang membutuhkan penjelasan berulang, contoh konkret, atau bantuan langkah demi langkah. Di sinilah pentingnya pembelajaran yang fleksibel.

Guru perlu mengidentifikasi bagian yang menjadi kesulitan anak, memberikan bantuan yang sesuai, kemudian mengurangi bantuan ketika anak mulai mampu.

Pendekatan scaffolding dan penggunaan papan berhitung dapat menjadi salah satu alternatif untuk pembelajaran matematika dasar, khususnya penjumlahan dan pengurangan.

Hasil uji coba pada empat anak memang masih terbatas dan belum dapat digeneralisasikan kepada seluruh anak lambat belajar. Namun, peningkatan nilai pada seluruh anak memberikan indikasi positif bahwa pembelajaran yang konkret, bertahap, dan sesuai kebutuhan individual layak terus dikembangkan.

Pada akhirnya, pendidikan inklusif bukan tentang membuat semua anak belajar dengan cara yang sama.Pendidikan inklusif adalah tentang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk belajar dengan cara yang memungkinkan mereka berkembang.

Dan terkadang, perjalanan seorang anak untuk memahami matematika tidak harus dimulai dari buku yang tebal atau teknologi yang canggih.

Perjalanan itu bisa dimulai dari sebuah papan sederhana, beberapa stik es krim, pertanyaan seorang guru, dan kesempatan bagi anak untuk mencoba sekali lagi.

Karena ketika anak diberi kesempatan, waktu, dan dukungan yang tepat, angka bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti. Angka dapat menjadi sesuatu yang dapat dipahami, dimainkan, dan akhirnya dikuasai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *