Kemdiktisaintek Dorong Kampus Terapkan PJJ Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (Foto: Dok Kemdiktisaintek)

Lentera Post – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau mengalihkan pembelajaran tatap muka ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Langkah ini ditujukan untuk mengurangi aktivitas sivitas akademika di luar ruangan sekaligus memastikan kegiatan perkuliahan tetap berjalan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mengatakan keselamatan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan menjadi prioritas dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, terutama ketika kondisi lingkungan tidak mendukung aktivitas akademik secara langsung.  “Keselamatan mahasiswa, dosen, dan seluruh tenaga kependidikan adalah prioritas. Dalam kondisi terdampak abu vulkanik seperti saat ini, pembelajaran jarak jauh menjadi salah satu pilihan mitigasi agar kegiatan akademik tetap berlangsung tanpa mengharuskan sivitas akademika beraktivitas di luar ruangan,” ujar Brian, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (7/9/2026)

Dorongan penerapan PJJ tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemdiktisaintek kepada pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta di wilayah Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Surat edaran tersebut mempertimbangkan erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB serta dampak abu vulkanik di sejumlah wilayah.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi menegaskan, PJJ bukan berarti perguruan tinggi menghentikan kegiatan akademik. Sebaliknya, skema tersebut merupakan bentuk adaptasi agar pembelajaran tetap berlangsung ketika kondisi belum memungkinkan perkuliahan tatap muka.  “Kita ingin memastikan dua hal berjalan bersamaan: keselamatan sivitas akademika tetap terjaga, dan hak mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran tetap terpenuhi. Karena itu, perguruan tinggi perlu mengoptimalkan teknologi dan sistem pembelajaran daring yang dimiliki,” tutur Khairul.

Kampus Terdampak Diberikan Ruang Penyesuaian Jadwal Perkuliahan

Pimpinan perguruan tinggi di wilayah terdampak, khususnya DKI Jakarta, Banten, dan Lampung, diberikan ruang untuk mengalihkan kegiatan perkuliahan tatap muka menjadi pembelajaran daring. Dengan skema ini, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dari rumah sehingga kebutuhan untuk beraktivitas di luar ruangan dapat dikurangi.

Penyesuaian juga dapat diterapkan terhadap aktivitas dosen dan tenaga kependidikan. Perguruan tinggi dapat memberlakukan Work From Home (WFH) bagi unit kerja yang memungkinkan, dengan tetap memastikan layanan akademik dan administrasi yang bersifat esensial berjalan.

Selain mengubah metode pembelajaran, Kemdiktisaintek meminta perguruan tinggi memastikan setiap perubahan kebijakan disampaikan secara jelas dan terkoordinasi kepada mahasiswa serta sivitas akademika.

Informasi mengenai jadwal perkuliahan, mekanisme pembelajaran daring, layanan akademik, hingga perkembangan kondisi lingkungan perlu disampaikan melalui kanal resmi perguruan tinggi. Langkah ini penting untuk mencegah kebingungan sekaligus memastikan mahasiswa tetap memperoleh layanan pendidikan selama kondisi darurat.

Perguruan tinggi juga diminta mengikuti perkembangan situasi melalui informasi resmi dari instansi berwenang, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Kesehatan, serta Kemdiktisaintek.

Untuk mendukung perlindungan sivitas akademika, kampus di wilayah terdampak juga didorong mengaktifkan posko siaga kesehatan sesuai kemampuan dan fasilitas yang tersedia. Posko dapat menjadi bagian dari respons awal dan dikoordinasikan dengan dinas kesehatan setempat.

Kemdiktisaintek akan terus memantau perkembangan kondisi erupsi dan dampaknya terhadap perguruan tinggi. Penyesuaian kebijakan pembelajaran selanjutnya akan mempertimbangkan perkembangan situasi serta rekomendasi dari otoritas kebencanaan dan kesehatan.

Dengan demikian, respons perguruan tinggi terhadap erupsi tidak hanya berorientasi pada pengurangan risiko bagi sivitas akademika, tetapi juga memastikan kondisi darurat tidak memutus proses pendidikan. PJJ menjadi salah satu instrumen agar keselamatan dan keberlanjutan pembelajaran dapat berjalan bersamaan.

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *