Ubaya Dorong Kemandirian Ekonomi Orang Tua Siswa SLB Kirana Hati Bunda Lewat Pelatihan Wirausaha

Lentera Post – Mojokerto — Universitas Surabaya (Ubaya) mendorong kemandirian ekonomi keluarga siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Kirana Hati Bunda melalui pelatihan kewirausahaan bagi para orang tua siswa. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman tentang dasar-dasar berwirausaha, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan langsung proses produksi makanan yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha.

Pelatihan yang diikuti para orang tua siswa yang tergabung dalam komite sekolah SLB Kirana Hati Bunda ini menjadi bagian dari upaya Ubaya mengembangkan usaha berbasis komunitas. Peserta dibekali keterampilan mulai dari membangun keberanian memulai usaha, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, hingga mengolah dan mengemas produk agar siap dipasarkan.

Ketua Tim Program Pendampingan Komunitas (PPK) Ubaya, Dr. Juliani Dyah Trisnawati, S.Si., M.M., SCM., CPPM., dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya, mengatakan program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan kewirausahaan orang tua siswa SLB sekaligus membuka peluang tumbuhnya kemandirian ekonomi keluarga.

“Program ini diharapkan tidak hanya memberikan keterampilan kepada orang tua, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya kemandirian ekonomi keluarga melalui usaha yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.

Materi pelatihan diawali dengan intensi kewirausahaan yang menekankan pentingnya motivasi, kepercayaan diri, dan keberanian untuk memulai usaha. Peserta kemudian mendapatkan pemahaman mengenai Harga Pokok Penjualan (HPP) serta cara menentukan harga jual secara tepat.

Pengetahuan mengenai HPP menjadi salah satu materi penting karena pelaku usaha pemula sering menghadapi tantangan dalam menentukan harga produk. Dengan memahami biaya produksi secara menyeluruh, peserta diharapkan mampu menentukan harga yang dapat menutup biaya sekaligus memberikan keuntungan.

Setelah mendapatkan pembekalan teori, peserta diajak langsung melakukan praktik produksi. Mereka dibagi menjadi dua kelompok sesuai minat, yakni kelompok keripik singkong dan kelompok peyek.

Pada kelompok keripik singkong, peserta mempraktikkan proses produksi mulai dari memilih bahan baku, menggunakan mesin perajang untuk menghasilkan irisan singkong yang tipis dan seragam, mencuci serta merendam bahan, menggoreng, hingga mengemas produk.

Sementara kelompok peyek mempelajari pemilihan bahan baku, pembuatan adonan, serta pengolahan berbagai jenis topping, seperti kacang tanah, kacang hijau, dan udang ebi. Produk kemudian digoreng dan dikemas hingga siap untuk dipasarkan.

Peserta tidak hanya menyaksikan proses yang dilakukan oleh instruktur, tetapi terlibat langsung dalam setiap tahapan. Pendekatan praktik tersebut memberikan pengalaman nyata mengenai bagaimana bahan pangan sederhana dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Dari kegiatan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai rangkaian proses usaha secara lebih utuh. Tidak hanya soal membuat produk, tetapi juga bagaimana menghitung biaya, menentukan harga, menjaga kualitas, dan mengemas produk agar memiliki daya jual.

Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Surabaya.

Tim pelaksana diketuai Dr. Juliani Dyah Trisnawati, S.Si., M.M., SCM., CPPM. dari FBE Ubaya. Tim juga melibatkan Dr. Aniva Kartika, S.Psi., M.A. dari Fakultas Psikologi, Dr. Endah Asmawati, S.Si., M.Si. dari Teknik Informatika, serta Utomo dan Kartika Erawati dari LPPM Ubaya. Kegiatan tersebut turut melibatkan mahasiswa Andira Mahesa, Maria Carla Djawa dan Maria Christin.

Ketua Yayasan SLB Kirana Hati Bunda, Sri Sumarlik, menyampaikan apresiasi atas pelatihan dan pendampingan yang diberikan Ubaya kepada para orang tua siswa.

Menurut Sri, program tersebut memberikan manfaat tidak hanya dalam meningkatkan keterampilan, tetapi juga membangun karakter positif, motivasi, serta keberanian orang tua untuk memulai usaha.

“Dampak dari program juga sangat kami rasakan. Berhasil membentuk karakter positif bagi orang tua terkait kewirausahaan, membangun motivasi dan keberanian dalam memulai usaha. Ke depan, para orang tua SLB berharap bisa memiliki dan mengelola usaha secara mandiri,” kata Sri.

Bagi Sri, kemandirian ekonomi keluarga memiliki arti penting bagi keberlangsungan dukungan terhadap anak berkebutuhan khusus. Dengan kondisi ekonomi yang lebih kuat, keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan yang semakin optimal bagi anak-anak mereka.

Ia berharap pendampingan yang dilakukan Ubaya dapat terus memberikan manfaat bagi keluarga siswa SLB dan menjadi salah satu jalan untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus mengembangkan potensi serta mewujudkan cita-cita.

“Mendukung anak berkebutuhan khusus yang memang mempunyai keterbatasan, mewujudkan mimpi mereka menjadi kenyataan,” ujarnya optimistis.

Melalui pelatihan tersebut, Ubaya menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari potensi yang ada di lingkungan sekitar. Singkong dan peyek yang selama ini dikenal sebagai makanan sederhana dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan konsep usaha sekaligus membangun keberanian orang tua dalam menciptakan sumber penghasilan.

Lebih dari sekadar pelatihan membuat makanan, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menumbuhkan pola pikir kewirausahaan. Dengan keterampilan produksi, pemahaman biaya, serta pendampingan yang tepat, para orang tua siswa SLB Kirana Hati Bunda diharapkan mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *