Misi Dagang Jatim–Kaltara Raup Transaksi Rp2,5 Triliun, Khofifah Dorong Perluasan Kerja Sama

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Kuatkan Kolaborasi Strategis Antardaerah melalui Prinsip Tumbuh Bersama, Maju Bersama dan Sejahtera Bersama

Lentera Post – TARAKAN, 8 SEPTEMBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Kalimantan Utara dengan capaian transaksi final yang spektakuler. Misi dagang yang digelar di Hotel Tarakan Plaza, Selasa (8/9), tersebut membukukan nilai transaksi mencapai Rp2.507.940.886.000 atau sekitar Rp2,5 triliun.

Dari total tersebut, transaksi penjualan Jawa Timur ke Kalimantan Utara mencapai Rp1.644.652.687.600, sedangkan pembelian Jawa Timur dari Kalimantan Utara mencapai Rp863.288.184.400.

Transaksi yang tercatat dalam Misi Dagang tersebut juga memperlihatkan beragam komoditas yang dapat dipertukarkan antara Jawa Timur dan Kalimantan Utara.

Dari Jawa Timur ke Kalimantan Utara, komoditas yang ditransaksikan antara lain olahan daging unggas, karkas ayam, susu dan susu sapi pasteurisasi, daging sapi, anak ayam, kambing atau domba, kepiting, produk hasil tembakau, beras, pakan ikan, perlengkapan kapal, fashion/wastra/kriya, benih hortikultura dan tanaman pangan, ayam, kopi Green Bean Robusta, waralaba bakso merah putih, pupuk organik cair, besi beton, hewan ternak sapi, serta produk kerajinan kulit.

Sementara dari Kalimantan Utara ke Jawa Timur, transaksi mencakup kayu bulat, bandeng dan bandeng tanpa duri, kepiting soka, udang dan udang windu Black Tiger, PKE (Palm Kernel Expeller), tuna, rumput laut, serta dori dan dori katsu atau patin.

Gubernur Khofifah menegaskan, capaian transaksi tersebut tidak boleh berhenti sebagai angka dalam satu forum pertemuan. Misi Dagang yang sudah digelar tujuh kali sepanjang 2026 ini harus menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar, memperkuat mata rantai pasok, membuka investasi, serta membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan antara pelaku usaha kedua provinsi.

“Semangat utama Misi Dagang Jawa Timur dan Kalimantan Utara adalah membersamai, menguatkan, meluaskan, dan mengembangkan seluruh sektor potensial yang dimiliki kedua daerah,” ujarnya.

Khofifah menyampaikan, besarnya transaksi yang tercipta menunjukkan bahwa kebutuhan pasar dan potensi produksi dari kedua wilayah memiliki ruang yang luas untuk dipertemukan. Karena itu, seluruh kesepakatan dan peluang bisnis yang lahir dari misi dagang harus segera ditindaklanjuti agar memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

“Kebersamaan ini akan menjadi penguat dari seluruh sektor tidak hanya ekonomi maupun perdagangan. Penguatan pertumbuhan ekonomi yang inklusif kita ikhtiarkan bersama, tidak ada sukses sendirian, makin banyak kolega, kolaborasi, sinergi, kesuksesan akan bisa kita raih,” katanya.

“Kita punya prinsip bagaimana kita tumbuh bersama, kita maju bersama, berkembang dan sejahtera bersama. Sehingga konektivitas ini tidak dilihat dari pertemuan hari ini saja, berikutnya pengembangan sektor lain sangat potensial untuk bisa dibangun bersama,” imbuhnya.

Khofifah menilai kekuatan Misi Dagang tidak hanya terletak pada transaksi yang terjadi, tetapi juga pada terbentuknya jejaring antarpelaku usaha. Untuk itu, ia mendorong penguatan konektivitas antara organisasi dunia usaha di Jawa Timur dan Kalimantan Utara, termasuk IWAPI dan HIPMI di kedua provinsi.

“Contohnya antara KADIN Jatim dengan KADIN Kaltara, IWAPI Jawa Timur dan IWAPI Kaltara, HIPMI Jawa Timur dan HIPMI Kaltara, sinergi dan kolaborasi di antara mereka akan menguatkan baik dari sisi penguatan pasar maupun sisi kualitas sumberdaya manusianya,” ungkapnya.

Penguatan kerja sama tersebut juga ditandai dengan penandatanganan sejumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara perangkat daerah maupun organisasi dunia usaha dari Jawa Timur dan Kalimantan Utara. Khofifah berharap kesepakatan yang telah dibangun segera diterjemahkan dalam aksi konkret.

“Terima kasih atas sambutan Gubernur Kaltara yang luar biasa, komitmennya memang luar biasa. Mari kita tindak lanjuti dengan keluarbiasaan untuk menjalankan seluru komitmen transaksi yang tadi sudah kita tandatangani bersama,” tuturnya.

Di tengah besarnya capaian transaksi, Khofifah juga melihat peluang baru dari komoditas unggulan Kalimantan Utara yang belum banyak terkoneksi dengan pasar Jawa Timur dan jaringan ekspor. Salah satunya adalah sarang burung walet.

Khofifah menilai potensi sarang burung walet Kaltara sangat besar dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai tambah yang mampu menembus pasar internasional.

“Apa yang menjadi kekuatan belum semua tereksplor. Pak Ketua DPRD Kaltara menyampaikan, untuk sarang burung walet Kaltara ini gudangnya. Tapi saya belum lihat ada transaksi sarang burung walet. Setelah misi dagang potensi tersebut bisa digali dan di koneksikan ,” katanya.

Khofifah mengatakan, Jawa Timur memiliki pengalaman dalam membuka pasar sarang burung walet di luar negeri. Melalui misi dagang internasional, jejaring perdagangan komoditas tersebut terus diperluas, termasuk ke Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok, dan Korea Selatan.

“Tadi saya menyampaikan, kita baru saja melakukan misi dagang di Hong Kong, dulu susahnya kita memasukkan produk sarang burung walet. Dua bulan lalu kita bisa memasukkan dalam jumlah yang cukup siginifikan dan mendapatkan transaksi yang cukup prestisius. Artinya ini tidak hanya market bagi Jawa Timur, tapi market juga bagi masyarakat petani sarang burung walet di Kaltara,” terangnya.

Menurut Khofifah, jejaring yang telah dibangun Jawa Timur tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan produk sarang burung walet Kaltara dengan pasar yang lebih luas.

“Apa yang kami sampaikan ini bisa menjadi catatan penting baik trader dan buyer, untuk bisa melakukan langkah tindak lanjut. Potensi sarang burung walet di Kaltara ini sangat besar dan perlu kita koneksikan dengan jejaring pasar yang lebih luas,” ucapnya.

Khofifah menjelaskan, Misi Dagang pada dasarnya merupakan upaya mempertemukan mata rantai produksi dan kebutuhan pasar. Karena itu, transaksi yang tercipta hari ini diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama baru, termasuk untuk membuka akses ekspor bagi produk unggulan daerah.

“Inilah sebetulnya penguatan jejaring yang kita harapkan, apa yang ditandatangani tadi ini sesuatu yang harus dikembangkan, diluas kembali supaya proses untuk bisa membawa produk ini ke luar negeri,” katanya.

Dalam konteks tersebut, posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat perdagangan dan logistik nasional dinilai dapat menjadi pengungkit konektivitas ekonomi antardaerah. Khofifah menyebut Surabaya memiliki posisi strategis sebagai pintu perdagangan untuk menghubungkan produk dari berbagai wilayah Indonesia dengan pasar internasional.

“Ini bagian dari upaya menemu kenali kembali potensi luar biasa yang dimiliki Kaltara, kemudian mempertemukannya dengan jejaring yang lebih luas. Kita bicara konektivitas dan efisiensi terutama melalui perdagangan, kalau kita ingin ekspor maka pintunya memang paling efisien itu dari Surabaya,” katanya.

Selain akses pasar, Khofifah juga menekankan pentingnya akses pembiayaan bagi pelaku usaha. Menurutnya, pengembangan bisnis membutuhkan dukungan yang lebih komprehensif, mulai dari pasar, permodalan, hingga penguatan kapasitas manajerial.

“Ini adalah pola creative financing yang diinisiasi kedua provinsi, pelaku usaha dari Jawa Timur maupun Kaltara,” terangnya.

“Pengusaha dari kedua daerah juga memiliki ruang yang signifikan untuk bertumbuh. Kita ingin memastikan pelaku usaha tidak hanya bertemu dengan pasar, tetapi juga memiliki akses terhadap pembiayaan dan penguatan kapasitas manajerial,” lanjutnya.

Besarnya peluang perdagangan Jatim dan Kaltara juga tercermin dari nilai perdagangan antarwilayah kedua provinsi. Berdasarkan data Perdagangan Antarwilayah Jawa Timur dengan Seluruh Provinsi Tahun 2024, total nilai perdagangan Jatim–Kaltara mencapai Rp10,83 triliun.

Khofifah menilai kondisi tersebut justru menunjukkan besarnya ruang yang masih dapat dikembangkan untuk memperkuat perdagangan dua arah, terutama melalui diversifikasi komoditas dan peningkatan nilai transaksi.

Penjualan Jawa Timur ke Kalimantan Utara saat ini didominasi lima komoditas utama, yakni pupuk yang mengandung nitrogen dan campuran lainnya sebesar 24,05 persen, sepeda motor 15,29 persen, beras setengah atau seluruhnya digiling 9,67 persen, semen, mortar, beton dan komposisi tahan api 9,02 persen, serta furnitur lainnya 3,65 persen. Kelimanya berkontribusi 61,69 persen terhadap total penjualan Jatim ke Kaltara.

Sementara pembelian Jawa Timur dari Kalimantan Utara didominasi batubara tidak diaglomerasi sebesar 41,86 persen, minyak kelapa sawit mentah 35,10 persen, lembaran veneer, kayu lapis serta kayu digergaji 6,75 persen, buah dan kernel kelapa sawit 6,68 persen, serta produk perikanan berupa ikan beku 5,39 persen. Lima komoditas tersebut menyumbang 95,78 persen dari total pembelian Jatim dari Kaltara.

“Angka ini menunjukkan kuatnya keterhubungan ekonomi kedua provinsi. Pada saat yang sama, ini juga menunjukkan bahwa ruang untuk memperluas perdagangan dua arah masih sangat terbuka, baik dari sisi diversifikasi komoditas maupun peningkatan nilai transaksi,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang mengapresiasi kunjungan dan kepemimpinan Gubernur Khofifah dalam Misi Dagang dan Investasi Jatim–Kaltara.

Menurut Zainal, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat kerja sama ekonomi kedua provinsi sekaligus membuka peluang investasi dan kemitraan usaha yang lebih luas.

“Kehadiran beliau adalah sebuah kehormatan, mempererat kerjasama ekonomi Jatim dan Kaltara. Apresiasi yang sangat tinggi atas kembali terlaksananya setelah sukses tahun 2023 lalu di Kota Tarakan,” kata Zainal.

“Misi Dagang sangat strategis dan penting, tidak hanya berhenti sebagai pertemuan transaksi sesaat, tapi ini langkah nyata perluasan investasi dan membangun kemitraan usaha yang berkelanjutan. Ini hal yang luar biasa, kita terus laksanakan untuk kemajuan dua provinsi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *