Tim PKM-K FEB Universitas Negeri Malang Resmi Luncurkan WHISH, Inovasi Perawatan Sepatu Putih Ramah Lingkungan Berbasis Ekonomi Sirkular

Lentera Post – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) resmi meluncurkan WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes), inovasi tisu ramah lingkungan untuk perawatan harian sepatu putih yang dikembangkan melalui pemanfaatan limbah organik. Inovasi ini tidak hanya menghadirkan solusi praktis dalam perawatan sepatu putih, tetapi juga menjadi implementasi nyata konsep ekonomi sirkular (circular economy) yang mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production).

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, penerapan ekonomi sirkular menjadi salah satu pendekatan yang terus didorong dalam berbagai sektor. Berbeda dengan konsep ekonomi linear yang menerapkan pola take–make–dispose, ekonomi sirkular mengedepankan pemanfaatan kembali sumber daya agar tetap berada dalam siklus produksi. Melalui pendekatan tersebut, limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari proses produksi, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Prinsip tersebut menjadi landasan utama dalam pengembangan WHISH. Tim PKM-K FEB Universitas Negeri Malang memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan dasar lembaran tisu biodegradable, sehingga limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi baru sebagai media perawatan sepatu putih. Tidak hanya itu, larutan aktif WHISH juga memanfaatkan ekstrak kulit lemon yang berasal dari limbah industri minuman dan diproses menggunakan teknologi nanoenkapsulasi untuk menjaga stabilitas senyawa aktif serta meningkatkan efektivitasnya dalam membantu membersihkan noda ringan dan menjaga tampilan sepatu putih agar tidak mudah mengalami kekuningan.

Sebagai pelengkap formulasi, tim turut mengembangkan biosurfaktan alami berbahan ekstrak lidah buaya (Aloe vera) yang berperan membantu melepaskan debu, minyak, dan kotoran pada permukaan sepatu secara lebih efektif. Penggunaan bahan-bahan alami tersebut menjadi salah satu bentuk upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan sintetis sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hayati yang tersedia di sekitar masyarakat.

WHISH dikembangkan oleh tim yang diketuai Sekar Wahyu Ningtyas dari Program Studi S1 Pendidikan Bisnis bersama Ervina Mei Ananda Putri (S1 Pendidikan Bisnis), Adrian Arif Pambudi (S1 Biologi), Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto (S1 Pendidikan Kimia), dan Kharisma Putri Ambarwati (S1 Pendidikan Bisnis). Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan dalam memadukan aspek kewirausahaan, biologi, dan kimia untuk menghasilkan inovasi yang tidak hanya berbasis riset, tetapi juga memiliki potensi komersialisasi.

Ketua Tim PKM-K, Sekar Wahyu Ningtyas, menjelaskan bahwa WHISH dikembangkan dengan tujuan membuktikan bahwa inovasi sederhana berbasis sumber daya lokal mampu memberikan dampak yang lebih luas apabila dirancang dengan pendekatan yang berkelanjutan.

Melalui WHISH kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik bukanlah akhir dari sebuah proses, tetapi dapat menjadi awal lahirnya produk baru yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi contoh bahwa ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Selain mengedepankan konsep keberlanjutan, WHISH juga dirancang sebagai produk perawatan harian (daily after care) yang praktis digunakan setelah sepatu dipakai. Produk ini membantu membersihkan debu dan noda ringan sebelum berkembang menjadi noda membandel maupun menyebabkan kekuningan, sehingga pengguna dapat menjaga kebersihan sepatu putih secara lebih rutin tanpa harus melakukan pencucian menggunakan air setiap saat. WHISH aman digunakan pada berbagai material sepatu putih, seperti synthetic leather, PU leather, PVC leather, serta bagian midsole berbahan EVA, PU, dan TPU.

Dalam mendukung hilirisasi inovasi, Tim PKM-K FEB Universitas Negeri Malang tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga membangun model bisnis yang berkelanjutan melalui strategi pemasaran digital, promosi langsung pada berbagai kegiatan, serta pengembangan kemitraan dengan toko sepatu dan jasa shoe laundry. Produk ini dipasarkan dalam kemasan box berisi 8 sachet, dengan setiap sachet berisi 2 lembar tisu basah, dan ditawarkan dengan harga Rp30.000 per box, sehingga tetap terjangkau bagi mahasiswa maupun masyarakat umum.

Melalui pengembangan WHISH, Tim PKM-K FEB Universitas Negeri Malang menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan limbah ampas tebu dan kulit lemon sebagai bahan baku utama tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah organik, tetapi juga menjadi bentuk implementasi prinsip ekonomi sirkular yang mendorong efisiensi pemanfaatan sumber daya dan pengurangan limbah. Inovasi ini sejalan dengan SDGs poin ke-12, yaitu mendorong pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Dengan dukungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Universitas Negeri Malang, tim berharap WHISH dapat terus berkembang menjadi produk inovasi karya mahasiswa yang berdaya saing, memperluas pemanfaatan sumber daya lokal, serta menginspirasi lahirnya inovasi-inovasi baru yang mampu menjawab tantangan lingkungan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *