Foto: Tim Ubaya bersama guru SLB Kirana Hati Bunda dan SLB Pelangi Kasih dalam kegiatan pelatihan penerapan sensori integrasi.
Lentera Post – MOJOKERTO – Belajar bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama dengan pembelajaran pada umumnya.
Suara, gerakan, sentuhan hingga cara anak merespons lingkungan bisa menjadi bagian penting yang perlu dipahami guru.
Hal inilah yang menjadi perhatian Universitas Surabaya (Ubaya) saat memberikan pendampingan kepada guru SLB Kirana Hati Bunda, Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Ubaya memadukan pelatihan sensori integrasi, penyediaan sarana sensori-motorik, hingga pengembangan game edukasi ramah disabilitas berbasis sensor suara.
Program yang mengusung tema “Pendampingan Guru dalam Stimulasi Sensori Integrasi dan Pengembangan Game Ramah Disabilitas Berbasis Teknologi di SLB Kirana Hati Bunda Tamiajeng” tersebut dirancang untuk memperkuat kemampuan guru dalam memahami kebutuhan sensori siswa sekaligus menghadirkan media belajar yang lebih menarik.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Aniva Kartika, Psikolog, menjelaskan bahwa setiap anak dapat memberikan respons berbeda terhadap suara, sentuhan, gerakan maupun rangsangan lainnya.
Respons tersebut, kata dia, dapat memengaruhi kenyamanan, keterlibatan, hingga perilaku anak ketika mengikuti pembelajaran.
Karena itu, guru didorong tidak hanya melihat perilaku yang tampak, tetapi juga memahami kemungkinan kebutuhan sensori yang melatarbelakanginya.
Pemahaman tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan aktivitas stimulasi yang aman, terarah dan sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa.
Guru Tak Hanya Diberi Teori
Salah satu luaran program Ubaya adalah Modul Sensori Integrasi yang disusun sebagai panduan praktis bagi guru.
Modul tersebut membantu guru mengenali respons sensori anak, merancang kegiatan stimulasi, serta memantau penerapannya dalam kegiatan sekolah.
Pendampingan juga dilakukan melalui pelatihan sensori integrasi yang bekerja sama dengan SLB Pelangi Kasih, Lumajang.
Dalam pelatihan itu, guru SLB Kirana Hati Bunda tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori.
Mereka juga melakukan praktik langsung berbagai aktivitas stimulasi sensori yang nantinya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing siswa.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang studi banding bagi guru SLB Kirana Hati Bunda.
Para guru dapat mengamati praktik layanan di SLB Pelangi Kasih, bertukar pengalaman, serta mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan pendampingan siswa di sekolah mereka.
Ada Soft Play dan Trampolin
Pendampingan Ubaya juga menyentuh aspek sarana pembelajaran.
Program tersebut turut mendukung pengadaan alat soft play sensori-motorik dan trampolin.
Sarana itu dapat digunakan untuk aktivitas yang melibatkan gerak tubuh, keseimbangan, koordinasi serta pengalaman sensori secara terarah.
Penggunaannya tetap disesuaikan dengan kebutuhan individual dan aspek keselamatan siswa.
Namun, ada satu inovasi lain yang cukup menarik perhatian.
Ubaya mengembangkan game ramah disabilitas berbasis teknologi sensor suara.
Game tersebut dirancang untuk membantu siswa mengenal angka, abjad atau huruf, serta nama buah melalui aktivitas bermain.
Yang menarik, siswa dapat memberikan respons menggunakan suara.
Foto: Siswa mencoba media pembelajaran berbasis sensor suara yang dikembangkan dalam program pendampingan Ubaya.
Dengan pendekatan tersebut, suara menjadi salah satu alternatif cara siswa berinteraksi dengan media pembelajaran.
Hal ini diharapkan dapat membantu siswa yang menghadapi hambatan ketika menggunakan perangkat belajar konvensional.
Tampilan dan aktivitas permainan juga dirancang agar proses belajar terasa lebih menyenangkan sekaligus mendorong anak untuk aktif memberikan respons.
Kepala Sekolah: Guru Jadi Lebih Paham
Kepala SLB Kirana Hati Bunda, Dwi Wahyu Utama, S.Psi., mengapresiasi program pendampingan yang diberikan Ubaya.
Menurutnya, kegiatan tersebut membantu meningkatkan kemampuan guru dalam mengenali kebutuhan sensori anak dan memberikan stimulasi yang sesuai.
Modul yang mudah dipahami serta pelatihan dengan praktik langsung membuat guru memiliki pengalaman yang lebih konkret.
Dwi juga menyambut baik kehadiran game berbasis sensor suara.
Menurutnya, media tersebut dapat menjadi alternatif pembelajaran yang menarik untuk mengenalkan angka, abjad dan nama buah kepada siswa.
Ia berharap kerja sama antara SLB Kirana Hati Bunda dan Universitas Surabaya dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi guru maupun siswa.
Belajar Sambil Bermain
Guru SLB Kirana Hati Bunda, Muhammad Rizqulloh, S.Psi., mengatakan pendampingan tersebut memberinya pemahaman baru mengenai perilaku anak di dalam kelas.
Menurutnya, respons dan perilaku tertentu yang muncul pada anak dapat berkaitan dengan kebutuhan sensorinya.
Ia pun mendapatkan kesempatan untuk langsung mencoba berbagai aktivitas stimulasi sensori.
Sementara itu, game berbasis sensor suara dinilai memberikan pengalaman belajar yang berbeda.
Siswa dapat belajar sambil bermain dan menjawab menggunakan suara.
Kondisi tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Libatkan Mahasiswa
Program pengabdian masyarakat tersebut mendapat dukungan pendanaan dari LPPM Universitas Surabaya.
Tim pelaksana diketuai Dr. Aniva Kartika, Psikolog, dengan anggota Heru Arwoko, M.T., dan Dr. Juliani Dyah Trisnawati.
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa, yaitu Elisabeth Kristy Krismardi, Serafina Novianty Arnietta, Tiffany Aprilia Tirtokusumo, Andira Mahesa, dan Maria Carla Djawa Djong.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran kolaboratif sekaligus penerapan ilmu untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.
Melalui program tersebut, Ubaya berupaya menghubungkan psikologi, teknologi dan pendidikan khusus dalam satu kegiatan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi sekolah.
Pendampingan pun tidak berhenti pada pemberian materi.
Ada modul yang dapat digunakan kembali, praktik dan studi banding, dukungan sarana sensori-motorik, hingga media belajar berbasis teknologi.
Harapannya, kolaborasi tersebut dapat membantu SLB Kirana Hati Bunda menciptakan lingkungan belajar yang semakin aman, adaptif, menyenangkan dan inklusif bagi setiap siswa.












