Lentera Post — Pembentukan karakter generasi muda tidak cukup mengandalkan pendidikan di sekolah. Keluarga, masyarakat, dan media memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan, kepedulian sosial, serta ketangguhan anak sejak dini, terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang mengubah pola hidup generasi muda.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan hal tersebut dalam sesi panel bertajuk “Implementasi Desain Besar Karakter Pemuda dalam Dunia Pendidikan” pada Indonesia Youth Summit 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Menurut Fajar, fondasi karakter dan ketangguhan generasi muda dibentuk melalui proses pendidikan sejak usia dini. Pola pengasuhan orang tua, kebiasaan sehari-hari, dan lingkungan tempat anak tumbuh turut menentukan kesiapan mereka menghadapi tantangan masa depan.
“Kami percaya bahwa profil generasi muda yang resilien, hari ini dan juga hari esok, itu sangat tergantung dengan proses pendidikan sejak usia dini,” ujarnya.
Salah satu tantangan pembentukan karakter saat ini adalah penggunaan teknologi digital yang semakin melekat dalam kehidupan anak. Tanpa pengelolaan yang tepat, kebiasaan menggunakan perangkat digital dapat mengurangi aktivitas fisik, mengganggu waktu tidur, dan memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengampanyekan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Gerakan ini mendorong pembiasaan perilaku positif melalui tujuh kegiatan, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat.
Ketujuh kebiasaan tersebut tidak hanya ditujukan untuk membangun pola hidup sehat, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Penerapannya membutuhkan konsistensi dan keteladanan dari orang dewasa. Orang tua berperan membangun rutinitas positif di rumah, sedangkan guru memperkuatnya melalui pembelajaran dan perilaku sehari-hari di sekolah.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan karakter tidak berhenti pada penyampaian nilai secara teoritis, tetapi diwujudkan dalam kebiasaan yang dilakukan secara berulang.
Fajar menekankan bahwa pendidikan karakter perlu berjalan beriringan dengan pengembangan kompetensi dan resiliensi atau ketangguhan diri. Ketiganya menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika dunia kerja.
Karakter membentuk landasan moral dan kepedulian sosial. Kompetensi membekali anak dengan kemampuan untuk menjawab kebutuhan zaman, sedangkan resiliensi membantu mereka beradaptasi dan bangkit ketika menghadapi kesulitan.
Ia juga mengingatkan bahwa kecerdasan tidak semata-mata diukur dari kemampuan akademik. Kecerdasan sosial dan emosional diperlukan agar generasi muda mampu memahami orang lain, mengelola emosi, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Cerdas itu tidak hanya dilihat dari kecerdasan intelektual, tetapi juga cerdas secara sosial dan emosional. Itulah fondasi bagi munculnya generasi yang patriotik, gigih, dan berempati,” lanjutnya.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup dilihat dari penguasaan materi pelajaran. Anak juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, kemauan untuk terus belajar, dan kesiapan menghadapi persoalan bersama masyarakat.
Dalam membangun generasi yang berkarakter, Fajar menggarisbawahi pentingnya memahami pendidikan sebagai proses belajar (learning), bukan sekadar bersekolah (schooling).
Pendidikan berlangsung di berbagai ruang kehidupan. Keluarga membentuk kebiasaan dasar, sekolah mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, masyarakat menyediakan ruang interaksi sosial, sedangkan media turut memengaruhi cara anak memahami informasi dan lingkungan sekitarnya.
Pembagian peran tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan karakter tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Kolaborasi antara orang tua, guru, masyarakat, dan media diperlukan agar nilai-nilai yang diajarkan kepada anak selaras dengan praktik yang mereka temui sehari-hari.
Di lingkungan sekolah, Kemendikdasmen terus memperkuat keterampilan pedagogis guru melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini menitikberatkan pemahaman murid terhadap materi esensial, bukan semata-mata banyaknya materi yang disampaikan.
Melalui pembelajaran mendalam, murid diharapkan mampu memahami konsep secara utuh, berpikir analitis, dan mempertimbangkan persoalan sebelum mengambil kesimpulan atau bertindak.
Momentum peringatan Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa pembangunan generasi penerus bangsa tidak hanya membutuhkan kecakapan akademik, tetapi juga karakter, semangat kebangsaan, dan kepedulian sosial.
Penguatan karakter sejak dini, disertai kompetensi dan ketangguhan, diharapkan membentuk generasi muda yang adaptif terhadap perubahan sekaligus mampu menjaga nilai-nilai kebangsaan dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.












